Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Widget Atas Posting

Melihat Ketulusan Molan Maren Edang sebagai Tabib atau Penyembuh

Molan Amo Hola Pimpin Ritual di Puncak Bukit Noni', Desa Mahal, Omesuri, Lembata, 2019


RAKATNTT.COM – Frasa atau sebutan Molan Maren ditujukan kepada Tetua adat Kedang (Edang) di Kabupaten Lembata, NTT, yang memiliki kemampuan mitis-magis. Mereka dipercayakan untuk memimpin ritual keagamaan tradisional di Kedang. Mereka juga bisa menyembuhkan orang  sakit. Selain itu, molan maren juga memiliki banyak pengetahuan tentang sejarah Kedang dan ungkapan-ungkapan lokal yang sangat puitis.

Menurut Amo Hola, molan memiliki tugas pokok yakni membantu orang tanpa mengharapkan imbalan. Ia juga menjelaskan bahwa molan mendapat petunjuk dari Wujud Tertinggi melalui leluhur Kedang yang namanya dirahasiakan oleh masing-masing molan. Artinya, tugas yang diemban oleh molan sangat luhur karena berasal dari Wujud Tertinggi.

Dari segi bahasa, menurut penulis, Molan barangkali berasal dari kata moleng, “sembuh atau menyembuhkan.” Jadi, Molan artinya tabib atau mengobati yang sakit. Juga arti lain, moleng berarti lembek (buah yang matang), halus dan lembut. Maka, molan diartikan sebagai orang baik yang lembut hatinya dan selalu siap melayani orang lain.

Selain itu, kata maren berarti sesuatu yang “sakral atau suci.” Maka, menurut penulis, molan maren berarti orang yang memiliki kharisma suci untuk membantu orang lain baik sebagai dukun/tabib maupun sebagai pemimpin ritual tradisional.

Dalam bahasa Lamaholot, Molan paralel dengan kata molang yang memiliki dua arti berlawanan yaitu tukang sihir dan dukun. Baca Paul Arndt, Agama Asli Kepulauan Solor, Penerj. Paulus Sabon Nama (Maumere: Penerbit Puslit Candraditya Maumere, 2003), hlm. xv. Tukang sihir dalam bahasa Kedang disebut Ma’ Molan.

Molan maren juga dianalisis oleh Barnes. Baca R. H. Barnes, Kedang: A Study of The Collective Thought of an Eastern Indonesia People (London: Oxford, 1974), hlm. 97-98. Yang berbeda dalam tafsirannya terletak pada kata maren yang menurutnya barangkali barasal dari kata marang, “Pembicara.” Pendapat ini, ia sesuaikan dengan versi budaya lamaholot yang diteliti oleh Vatter dan Paul Arndt tentang kata maran yang bisa berarti pembicara, pendoa atau deklamator nyanyian rakyat saat diadakan sebuah ritual adat.

Di Kedang, ada juga sebutan marang wala atau orang yang ditugaskan sebagai pembicara adat. Selain itu, kata maren juga berarti larangan. (Tulisan pengantar ini diambil dari skripsi yang ditulis oleh Antonius Rian, skripsi tersebut akan diterbitkan menjadi sebuah buku dengan judul: Pancasila, Budaya Kedang dan Milenial).

Tulus Jalankan Tugas

Menjalankan tugas menyembuhkan pasien, memimpin ritual dan tugas-tugas lainnya tanpa dibayar atau mengharapkan imbalan sangat nyata terdapat pada diri seorang molan maren. Mereka tak pernah menuntut dibayar berapa prosen seperti para politisi di gedung-gedung megah, di Lewoleba misalnya (barangkali ada molan yang menuntut dibayar?). Yang mereka tuntut adalah kejujuran dari para pasien dalam mengakui kesalahan-kesalahan mereka atau wangun lean.

Jika kita mengikuti atau mengamati secara langsung misi molan maren dalam membantu orang, akan kita temukan ketulusan, keiklasan, kesetiaan, kesabaran dan karakter positif lainnya yang ditampilkan oleh para imam adat tersebut. Walaupupun sesungguhnya mereka memiliki tugas lain, misalnya berkebun, mencari uang untuk mengongkos anak sekolah, juga kebutuhan rumah tangga tetapi ketika ada permintaan untuk memimpin ritual kesembuhan misalnya, mereka tidak menolak.

Lebih luar biasa lagi, molan  maren tidak pernah menentukan harga cape lelah dalam bentuk rupiah. Bahkan, jika dibayar, mereka menolaknya karena hal tersebut mencoreng ketulusan tugas molan maren, maka dikategorikan sebagai puting atau sesuatu yang dilarang.

Dalam memimpin ritual misalnya, mereka tidak mengeluh jika merasa lelah karena berbicara hingga berjam-jam dan duduk bersila pun berjam-jam. Coba anda ikuti ritual-ritual besar di kampung lama, molan maren sangat nampak rasa setia dan kesabarannya dalam menjalankan tugas hingga akhir. Dari pagi sampai malam, dilanjutkan lagi ke siang. Apakah molan maren pernah mengeluh atau meminta untuk dibayar? Tidak.

Dari molan maren, kita belajar banyak karakter baik untuk pengembangan kepribadian kita. Menjadi orang baik (ate di’en), selain dari diri sendiri, orang tua, kita juga bisa belajar pada molan maren. Jadi menjadi orang baik itu tidak hanya diajarkan dalam agama-agama samawi ya, dalam diri orang Kedang, khususnya molan maren yang oleh penulis, mereka adalah nabi-nabi zaman kini, kita bisa belajar makna kehidupan.

Oleh karena itu, anggapan negatif terhadap kiprah molan maren oleh orang-orang beragama atau yang menganggap diri sebagai asisten Tuhan misalnya, perlu ditertawakan. Apakah orang-orang yang mengaku diri sebagai pemilik kesalehan atau beragama adalah pencipta kebenaran tunggal? Apakah mereka adalah penentu kebenaran? Tidak. 

Tugas molan maren itu suci dan hanya orang yang terlibat langsung bersama molan maren yang bisa memahami mereka. (Tentang hal ini, anda dianjurkan untuk membaca buku teologi terlibat karya Paulus Budi Kleden, SVD) – (Admin)

 

 

 

Post a Comment for "Melihat Ketulusan Molan Maren Edang sebagai Tabib atau Penyembuh"