Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Widget Atas Posting

Mencari Jejak Awal Masuknya Wela atau Sarung di Kedang

 

Wela Edang


RakatNtt - Dalam tradisi lisan, masyarakat kita menyimpan banyak kisah-kisah masa lalu yang dinarasikan melalui mitos, legenda dan sebagainya. Sepintas terdengar tak masuk akal – makanya orang sering menyebut mitos sinonim dengan cerita palsu – padahal, di balik mitos, ada pesan yang bisa kita pahami secara rasional. Di balik sebuah mitos, ada kisah-kisah terselubung yang menegaskan fakta masa lampau. Mitos adalah cara leluhur kita memahami dunia pada masanya. Artinya, mitos bukan cerita palsu.

Misalnya di Kedang, ada kisah tentang gurita raksasa yang muncul di gunung atau kampung lama. Padahal, kisah ini mau menegaskan bahwa pada zaman dulu ada sebuah bencana besar yang sulit dipahami penyebabnya – mungkin gempa bumi, banjir atau tanah longsor – sehingga leluhur membahasakannya melalui legenda yang unik yakni naiknya gurita raksasa di gunung atau Arabora – yang kemudian menjadi cikal bakal nama kampung Aliuroba, atau Waq Tangoba di Desa Mahal dst.

Pengantar singkat ini coba merangsang kita untuk mencari tahu kembali asal usul Wela atau sarung di Kedang. Kalau dari makna kata, sesungguhnya Wela punya 3 makna berbeda tapi masih beririsan yakni pedalaman, tradisi asli dan sarung. Tulisan ini berkaitan dengan Wela sebagai sarung. Pertanyaan kita adalah; apakah Wela sejak awal mula diproduksi oleh orang Pesisir (Kalikur dan sekitarnya) atau orang pedalaman (Wela) juga memproduksi Wela? Jika dihubungkan makna kata Wela (sarung) dengan Wela (pedalaman), rasanya ada benang merah yang cukup jelas.

Hal ini beralasan karena mayoritas orang Kedang berasal dari Wela, termasuk yang saat ini tinggal di pesisir. Apakah orang pesisir yang saat ini menenun sarung membawa tradisi ini dari Wela atau justru tradisi ini datang dari luar Kedang dan masuk melalui Pesisir – Kalikur dll?

Untuk membantu kita mencari jawaban sederhana, kita coba masuk melalui kisah mitologis yang ada di Kedang yakni kisah tentang Bota Ili-Wata Rian dan Peni Muko Lolon-Pulo Lama Le’ang. Dalam cerita pertama, Wela justru dibawa dari luar Kedang melalui Wata Rian yang kemudian menetap di wilayah pesisir. Wata Rian kemudian membawa Wela ke pedalaman saat berjumpa dengan Bota Ili (orang gunung atau pedalaman/wela). Kisah ini membantu kita memahami bahwa Wela dalam kisah Wata Rian-Bota Ili datang dari luar Kedang dan masuk melalui wilayah pesisir utara.

Sedangkan dalam kisah Peni Muko Lolon dan Pulo Lamale’ang menegaskan bahwa Wela atau sarung asalnya dari pedalaman. Kisah ini menarik karena Wela justru merupakan hasil evolusi dari daun sebatang pohon emas (ai lolon tola ain bala). Wela dalam kisah ini masih menyimpan jejak fisiknya hingga saat ini di rumah besar suku Leuwerun di Desa Walangsawa.

Dari 2 kisah ini memberi kita dua jejak awal Wela yakni pertama datang dari luar Kedang dan yang kedua datang dari Kedang pedalaman yakni Wela.

Pesisir Produksi Wela    

Walaupun nama Wela maknanya selain sarung juga berarti pedalaman, tetapi fakta unik di Kedang saat ini adalah hanya orang pesisir khususnya Kalikur dan sekitarnya yang memproduksi Wela. Mengapa tidak disebut saja sarung menjadi Watan? Mengapa harus disebut Wela? Pertanyaan ini membutuhkan pendalaman lebih lanjut.

Namun, kalau kita kembali ke belakang fakta membuktikan bahwa bukan hanya orang watan (pesisir) yang memproduksi Wela melainkan juga orang Wela (pedalaman) juga produksi Wela. Hal ini terlihat melalui bukti wela purba yang ada di rumah besar suku Leu Werun dan Wela Taran yang hingga kini masih ada di pedalaman dan hanya disimpan di dalam peti sebagai pusaka. Motif wela taran yang ada di pedalaman beda sekali dengan motif wela di pesisir yang kita kenal sekarang misalnya wela garuda.

Sudah jelas bahwa motif Wela garuda merupakan motif yang baru ada setelah Indonesia merdeka. Lebih lanjut, melalui pertanyaan; mengapa hanya orang pesisir yang produksi Wela? Jawabannya sudah jelas dapat kita beca melalui ungkapan: Wela birang wata logeq-Wata owan Wela Paro. Ungkapan ini merupakan sayin bayan ekonomi yang dicetuskan oleh Rian Baraq Kedang. Sayin bayan yang bijaksana dari sang pencetus ini masih bertahan hingga kini – sayin bayan bersifat mutlak tidak boleh dilanggar.

Namun, kita kesulitan menemukan kira-kira pada masa Rian Baraq siapa sayin bayan ini dilahirkan? Saya berhipotesa bahwa sayin bayan ini baru lahir pada masa kekuasaan Sarabiti Musa (1903-1938) sebab melalui dialah 44 kampung di Kedang berhasil dipersatukan secara administratif dan sah melalui peristiwa kumpul gading dan lahir pula gelar Rian Leu bagi kepala kampung di masing-masing kampung.

Hipotesa saya ini diperkuat dengan alasan bahwa sayin bayan wela-watan hanya bisa mungkin jika sudah ada persatuan kuat antara dua kelompok masyarakat ini. Dan sejarah mencatat bahwa Sarabiti Musa berhasil menyatukan 44 kampung. Lewat persatuan yang kuat inilah, sayin bayan bisa lahir.

Sebelum sayin bayan ini lahir, orang pedalaman juga menenun, bahkan pada akhir 1990-an, masih kita temukan mama-mama di pedalaman yang setia beraktivitas Tueng ape. Peralatan untuk tueng ape sampai saat ini masih kita temukan di pedalaman.

Dengan demikian, untuk menemukan jawaban; mengapa hanya orang pesisir yang produksi Wela? Harus kita ubah redaksinya menjadi; mengapa sarung dalam bahasa Kedang disebut Wela? Mengapa tidak disebut watan?

 

 

Post a Comment for "Mencari Jejak Awal Masuknya Wela atau Sarung di Kedang"