Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Widget Atas Posting

Harus Kritik Budaya Kita

 




RakatNtt - Kebudayaan di setiap daerah merupakan hasil rancang bangun pemikiran manusia yang disahkan melalui konsensus. Budaya adalah hasil konstruksi sosial sehingga dalam budaya, kata Ignas Kleden, selalu ada kontradiksi. 

Menurutnya, kesadaran akan kontradiksi dalam budaya membuat kita berpikir kritis dan tidak menerima begitu saja warisan budaya dan menganggapnya sebagai yang mutlak luhur. Ignas Kleden bahkan menegaskan, dalam budaya juga selalu ada ketidakadilan yang dianggap sebagai kebenaran. 

"Padahal dalam kebudayaan mana pun selalu terjadi pembenaran terhadap berbagai kelemahan manusia dan disembunyikannya ketidakadilan terhadap kelompok lemah oleh kelompok kuat," (Ignas Kleden, Kompas, 2000). 

Memahami kontradiksi dalam budaya membuat kita mampu membuat refleksi kritis dan memberikan sumbangan baru terhadap kebudayaan kita. Hal ini benar adanya sehingga budaya dikatakan bersifat dinamis; bisa berubah. Namun, perubahan yang kita harapkan adalah yang membebaskan manusia dari belenggu ketidakadilan, ekonomi, ketidaksetaraan dan lain-lain. 

Kita ingat juga bahwa dalam kebudayaan kita, aspek-aspek feodalisme tak terhindarkan; yang berkuasa dan kuat memeras yang kecil terutama petani yang ingin hidup tenang. 

Bahkan menurut Harari dalam buku Homo Sapiens, kaum feodal justru selalu dikenang dalam sejarah dan para petani lemah justru dihilangkan. Kita juga sadar bahwa budaya belis terhadap perempuan penuh dengan kepentingan ego laki-laki. 

Bahkan laki-laki melalui belis, telah menciptakan kelas baru bagi kaum perempuan - yang punya ijasah sarjana dianggap kelas atas sedangkan yang ijasah hanya sampai SMA dianggap kelas dua. 

Mengukur perempuan melalui ijasah sebagai patokan belis adalah kontradiksi yang dikontruksi oleh laki-laki. 

Bukan hanya itu, hanya karena faktor gengsi dan imajinasi tentang harga diri, setiap peristiwa kematian yang seharusnya diselimuti suasana duka, kini berubah total bahkan lebih menonjolkan aspek materi, makan, harus ada daging babi, kambing, ayam dll, yang melahirkan beban ganda bagi tuan rumah yang berduka. 

Namun, kita masih menemukan pemikiran konservatif yang tidak mau mengubah budaya dalam peristiwa kematian sebagai yang kontradiktif. Hal ini membuat kita menerima begitu saja dan membuat orang yang berduka dibebani dalam diam untuk harus bayar utang setelah penguburan. 

Hal lainnya, walaupun kita menganggap kearifan lokal kita luhur dan selalu menjaga keharmonisan tetapi fakta selalu problematis dan kontradiksi. 

Konflik versi tentang tanah-tanah adat dalam kampung menuntut kesadaran kita untuk melihat kembali setiap warisan. Sebab ada warisan yang lahir karena hasil konsensus atas kepentingan kekuasaan bukan melalui jalan kearifan lokal. 

Orang yang setia menjaga kebenaran kearifan lokal sebagai moral sosial akan dimanipulasi asal usulnya sebagai orang pendatang, tidak punya tanah bahkan ada indoktrinasi untuk menjadikan orang bersangkutan sebagai musuh bersama dalam kampung. Dampaknya adalah saling curiga dan gesekan sosial tak terhindarkan hingga hari ini. 

Oleh karena itu berpikir kritis untuk melakukan dekonstruksi budaya dan menciptakan warna baru dalam budaya kita adalah jalan yang harus kita tempuh. Salah satu hal yang harus kita pikirkan adalah kebiasaan kita menggantung persoalan sosial. 

Hal ini lebih ditujukan pada pengambil keputusan sosial, misalnya Pemerintah Desa. Membiarkan persoalan lama tanpa solusi final hanya akan melahirkan persoalan baru dan menciptakan kebingungan massal. Dampaknya adalah konflik horizontal baik antar kelompok suku maupun individu ditambah lagi dengan faktor ego politik maka lengkaplah sudah. Semuanya akan menjadi beban generasi muda. 

Post a Comment for "Harus Kritik Budaya Kita"