Satu Jam Bersama Bapak Agustinus Leuape
RakatNtt - Tradisi lisan sudah saatnya diwariskan melalui tulisan. Kepercayaan bahwa cerita sejarah lokal tabu untuk ditulis adalah kekeliruan yang perlu diubah.
Ketika kita omong soal sejarah kampung atau desa, kita tidak hanya duduk di rumah dan bermimpi tetapi perlu penelitian, mencari tahu dan bertanya untuk kemudian dikaji dan seterusnya ditulis. Tanpa tulisan, kita akan hilang ingatan tentang identitas kita.
Pada sekitar tahun 1966/1967, kampung Hobamatan dan Leuhapu bergabung membentuk Desa Gaya Baru dengan namanya yang keren yakni Desa Mahal. Sekitar tahun 1999, Desa Mahal dimekarkan menjadi Mahal dan Mahal 2. Pada tahun 2002, diadakan Pilkades Pertama untuk dua Desa yang baru dimekarkan ini.
Desa Mahal dipimpin oleh Leonardus Leu Odel dan Mahal 2, dipimpin oleh Agustinus Leuape. Dari cerita ini, saya tergerak untuk bertemu langsung dengan bapak Agustinus pada Selasa, 19 Mei 2026.
Beliau mengakhiri masa jabatannya pada tahun 2007 atau awal 2008. Lorong-lorong Desa Mahal 2 yang Anda nikmati hari ini menggambarkan peran Agustinus sebagai Kades pertama Desa Mahal 2.
Ia juga menjelaskan bahwa pada masa kepemimpinannya, nilai yang paling utama untuk membangun Desa adalah pohing ling holo wali - gotongroyong. Selain itu, ada nilai uben kapung oro' laleng, loyo dongo' obi lolo'.
Gotongroyong lahir secara otomatis dari kesadaran warga. Kerja bakti dilakukan secara sadar bukan karena ada imbalan dan sejenisnya. Ia mengisahkan, pada masa itu, Desa tidak dimanjakan dengan Dana Desa tetapi pembangunan Desa tetap berjalan normal. Ketika kerja bakti, Kades harus tampil memberi contoh.
"Kapala harus mulo tobol doka', tobol sapu nore sakop," kenang Bapak Agustinus. Memberi contoh kepada warga adalah nilai penting yang harus lahir dari kesadaran Kepala Desa. Ia juga menegaskan bahwa Kepala Desa tidak boleh mengeluh hanya karena uang.
"Ke nulon doi' tokong tapi kareang biasa." Hal lainnya soal nilai uben kapung oro' laleng, loyo dongo' obi lolo'. Artinya, pemimpin harus merangkul semua dan melindungi tanpa memilah-milah.
"Kara kapung Wai eha', kara dongo' wai nope wai," pesannya. Walaupun tanpa ijazah sarjana, bapak Agustinus telah menorehkan prestasi yang patut dikenang oleh generasi Mahal 2.
Kesederhanaan dan ketulusan melayani adalah bagian tak terpisahkan dalam pengalaman pengabdian seorang Agustinus. Bahkan ada ungkapan humor yang ditujukan pada bapak Agustinus dan rekannya Leonardus di Mahal (1) bahwa hari Senin di pasar Walangsawa boleh minum tuak dan pulang oleng tetapi tetap ada program baru setelah minum tuak.
Demikian sedikit cerita singkat tentang bapak Agustinus Leuape yang menjadi Kades Pertama Desa Mahal 2 setelah pemekaran. Saya masih berusaha untuk menggali cerita lain, khususnya tentang nama-nama para Rian Leu dan Tamukung baik dari Hobamatan maupun Leuhapu. Juga nama-nama Kades pada periode Mahal sebelum pemekaran seperti Haji Dula, Yan Tukang dan Mathias Saruang.
Mereka wajib dikenang dalam ingatan generasi Mahal hari ini. Bahkan ada cerita unik yang baru saya peroleh - semoga bisa di perdalam cerita ini - bahwa pada periode Rian Leu, ada seorang perempuan yang diangkat menjadi Rian Leu Leuhapu yakni Ubang Abe. Apakah cerita ini benar? Tugas kita adalah mencari tahu lebih banyak lagi. Semoga!

Post a Comment for "Satu Jam Bersama Bapak Agustinus Leuape"
Komentar