Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Widget Atas Posting

Sapaan-Sapaan kepada Wujud Tertinggi dalam Kehidupan Berbudaya Masyarakat Kedang, Lembata


RAKATNTT.COM - Kedang adalah nama salah satu wilayah di sebelah timur Pulau Lembata. Wilayah ini secara pemerintahan masuk dalam Kabupaten Lembata. Dahulu, wilayah ini biasanya dikenal dengan Kecamatan Lomlen Timur, tetapi sejak Lembata menjadi Kabupaten yang otonom, Kedang dibagi menjadi 2 kecamatan yaitu Kecamatan Omesuri dengan ibu kota kecamatannya Balauring dan Kecamatan Buyasuri dengan pusat kecamatannya di Wairiang.

 Kedang memiliki kekayaan kebudayaan yang patut diapresiasi dan dipelajari. Salah satu kekayaan itu adalah bahasa. Bahasa adalah ekspresi simbol yang terpenting dan berdaya guna dalam kebudayaan. Tanpa bahasa, tidak ada organisasi sosial kemasyarakatan[1]. Wilayah Kedang memiliki bahasa yang khas dan unik. Bahasa ini biasanya disebut bahasa Kedang. Dikatakan khas dan unik karena bahasa Kedang amat berbeda dengan bahasa-bahasa daerah yang lain di wilayah Lembata pada khususnya dan wilayah Lamaholot pada umumnya. Kekhasan dan keunikan juga menjadi faktor penentu yang membedakan kebudayaan Kedang dan kebudayaan Lamaholot. 

Adanya ketegasan distingsi demikian karena selama ini banyak orang sering terjebak dalam kekeliruan yakni mendefinisikan bahwa Kedang juga masuk dalam kebudayaan Lamaholot. Padahal bila ditelusuri dari berbagai aspek mendasar, salah satunya bahasa, Kedang memiliki kemandirian kebudayaan dengan latar belakang sejarahnya tersendiri. Secara lebih realistis, kekhasan itu nampak dalam sapaan kepada Wujud Tertinggi.

 Masyarakat lokal Kedang mempunyai sapaan yang khas terhadap Wujud Tertinggi seperti kebanyakan kebudayaan di dunia. Sapaan-sapaan itu dapat didengar ketika berlangsungnya ritus-ritus  keagamaan lokal. Salah satu ritus tradisional yang membahasakan nama Wujud Tertinggi secara lebih jelas adalah ritus poan kemer[2]. Ritus ini hanya dipimpin oleh orang-orang yang memiliki karisma khusus. Masyarakat Kedang menamai orang-orang ini molan maren

Ritus poan kemer adalah upacara korban yang dalamnya terdapat doa-doa permohonan, doa syukur dan pujian kepada Wujud Tertinggi. Dewasa ini, minusnya kepekaan  dan kurangnya pengetahuan terhadap adanya sapaan-sapaan lokal kepada Wujud Tertinggi semakin naik level. Banyak orang lebih tertarik dengan sapaan-sapaan yang sudah baku, misalnya dalam agama-agama samawi. Bila ada yang masih tertarik untuk menggunakan sapaan-sapaan kebudayaan lokal, itu juga bukan lahir dari kesadaran yang mendalam. Artinya refleksi filosofis akan sapaan-sapaan itu kurang diminati.

Tulisan ini hendak mengkaji secara lebih dalam sapaan lokal masyarakat Kedang-Lembata terhadap Wujud Tertinggi. Ini adalah bagian dari pendekatan linguistik karena keseluruan dari tulisan ini berisi analisa bahasa tentang nama-nama untuk Wujud Tertinggi dalam masyarakat Kedang-Lembata. Penulis merumuskan permasalahan yang akan dibahas dalam tulisan ini sebagai berikut: Bagaimana cara orang-orang Kedang-Lembata menyapa Wujud Tertinggi dalam kehidupan berbudaya?

Oleh karena itu, tulisan ini akan berisi pendeskripsian cara orang-orang Kedang-Lembata menyapa Wujud Tertinggi dalam kehidupan berbudaya.  Metode yang digunakan penulis adalah metode kualitatif dengan cara studi kepustakaan.

Sapaan-sapaan kepada Wujud Tertinggi

Masyarakat Kedang membahasakan Wujud Tertinggi berdasarkan segala sesuatu  yang tampak dalam kehidupan harian. Wujud tertinggi disapa sebagai sesuatu yang memiliki keistimewahan dalam hidup dan memiliki makna khusus yang berkaitan langsung dengan harian hidup sosial-budaya masyarakat Kedang. Bertolak dari realitas seperti ini, dapat disimpulkan bahwa pendekatan yang digunakan oleh masyarakat Kedang-Lembata adalah bagian dari pendekatan filsafat Ketuhanan dan bukan pendekatan teologi. 

Pendekatan filsafat Ketuhanan berarti mendekati Tuhan secara tidak langsung, yakni mendekati Tuhan sebagai sebab, penjelasan dari dunia yang kelihatan[3]. Secara keseluruhan nama-nama yang digunakan untuk menyapa Wujud Tertinggi dalam masyarakat Kedang-Lembata adalah Ula Loyo Ero Auq ; Amo Laha Ula Loyo, Ino Welin Bua Wala; Rian Nimon Ai Pu’en Ite Olor Aur Raya; Amo Laha Tala; dan Ewaq Metung Noning Paning. Berikut ini akan dijelaskan secara lebih terperinci makna dari masing-masing sapaan

 

a. Ula Loyo Ero Auq

      Sapaan ini terbukti lewat ucapan dari molan (pemimpin ritus) poan kemer : Ula Loyo dan pitu doq tebeq, Ero Auq dan pitu keu tebeq (arti ungkapan ini ialah undangan kepada Wujud Tertinggi untuk turut hadir dalam upacara poan kemer). Sebelum menjelaskan makna secara lebih terperinci maksud ungkapan Ula Loyo Ero Auq, baiklah diterangkan terlebih dahulu arti setiap kata dari ungkapan itu. Arti setiap kata dari ungkapan itu dapat dijelaskan sebagai berikut:

 Wula artinya bulan. Masyarakat Kedang-Lembata memandang bulan sebagai dewa malam. Bulan adalah penerang dan penolong saat malam hari. Bulan juga memiliki makna romantis. Pada zaman dahulu, masyarakat Kedang biasanya hamang (dolo-dolo bersama) saat bulan purnama. Jenis sastra yang digunakan pada saat tarian kegembiraan ini berupa pantun-pantun romantis oleh muda-mudi demi mendapatkan jodoh.

 Loyo artinya matahari. Seperti masyarakat pada umumnya, orang-orang Kedang juga amat mengagungkan matahari sebagai penerang yang besar. Matahari memungkinkan segala aktivitas bisa berjalan. Matahari membantu mengeringkan hasil bumi, misalnya kelapa, kemiri, ikan, rumput laut, dan lain-lain. Matahari dimanfaatkan juga untuk menjemur pakaian. Singkatnya, matahari memiliki keistimewahan dalam hidup harian masyarakat Ledang-Lembata karena matahari adalah dewa siang yang amat baik dan sungguh membantu aktivitas manusia.

 Ero Auq artinya penjaga tanah. Masyarakat Kedang meyakini setiap tempat (hutan, batu, air, dan lain-lain) memiliki penghuni. Begitu juga dengan tanah. Tanah memiliki peran sentral dalam kehidupan harian, sebab dalam beberapa mitos secara amat jelas dikisahkan hubungan kekeluargaan antara tanah dan manusia. Tanah dipandang sebagai sesama. Pada awal mula (menurut mitos), tanah adalah penjelmahan dari manusia. Tanah adalah leluhur masyarakat Kedang. Kepercayaan ini diperjelas dengan bukti adanya nama leluhur Tanah Lewun (salah satu saudara dari Uyo Lewun. Uyo Lewun adalah leluhur semua masyarakat kedang. Ini juga menjadi nama dari sebuah gunung di Kedang yang diberi nama gunung Uyelewun). Oleh karena itu, masyarakat Kedang memandang tanah bukan sekadar sebagai leluhur mereka tetapi lebih daripada itu, tanah dipandang sebagai pelindung dan penjaga sebab tanah adalah sesama dari masyarakat Kedang.

 Penjelasan arti setiap kata yang ada dalam ungkapan Ula Loyo Ero Auq membawa kita menuju pemahaman yang lebih dalam tentang sapaan yang digunakan untuk menyapa Wujud Tertinggi dalam masyarakat Kedang. Wujud Tertinggi diyakini sebagai bulan di malam gelap, cahaya terang di siang hari, serta tanah yang menjaga dan melindungi. Bulan, matahari, dan tanah adalah kenyataan alam yang amat dominan dalam kehidupan harian. Kenyataan alam ini memiliki fungsi yang urgen berkaitan dengan hidup harian manusia. Oleh karena itu, masyarakat Kedang memandang Wujud tertinggi sebagai Ula Loyo Ero Auq artinya Ia adalah Wujud yang paling mendasar dan amat penting dalam kelangsungan hidup orang-orang Kedang. Wujud Tertinggi adalah remang bulan yang romantis, cahaya terang pembantu kehidupan, dan penjaga/pelindung/sesama yang sangat dekat.

Amo Laha Ula Loyo, Ino Welin Bua Wala

Masyarakat Kedang selalu menyapa Wujud Tertinggi dari cara pandangnya sebagai orang Kedang. Nama-nama kepada Wujud Tertinggi selalu bertolak dari realitas harian yang dialami. Kepekaan indrawi jelas menjadi instrumen untuk bisa menyapa Wujud Tertinggi. Kenyataan seperti ini tentu bukan merupakan pendekatan yang baru dan khas orang Kedang tentunya. Pada zaman Yunani para filosof juga berwawasan kosmosentris[4]. Oleh karena itu, pendekatan antroposentris jelas lebih dominan dari pendekatan teosentris. Karena bagaimanapun juga, manusia tidak dapat melihat dengan mata Tuhan, melainkan hanya dengan matanya sendiri. Kenyataan ini juga dialami orang-orang Kedang dalam cara melihat dan menyapa Wujud Tertinggi.

 Sapaan Wujud Tertinggi sebagai Amo Laha Ula Loyo, Ino Welin Bua Wala bearti mengakui Wujud Tertinggi sebagai Bapa yang mencipta dan Ibu yang melahirkan. Amo adalah sapaan sopan kepada semua laki-laki dalam hidup harian masyarakat Kedang. Sapaan ini tereksplisit juga penghargaan yang besar terhadap kaum adam.  Amo Laha Ula Loyo berarti Dia (laki-laki) yang menciptakan bulan (ula) dan matahari (loyo). Penamaan jenis kelamin pria sebagai identik dengan yang mencipta kemudian melahirkan kebudayaan Kedang yang patriarki. 

Akan tetapi, ini bukan menjadi alasan untuk diskriminasi terhadap kaum hawa. Orang Kedang ternyata memiliki pandangan yang seimbang/setara antara kedua jenis kelamin. Wujud Teringgi juga disapa sebagai Ino Welin Bua Wala. Wujud Tertinggi sebagai Ino Welin Bua Wala berarti pengakuan adanya eksistensi perempuan sebagai ibu bumi. Perempuan disapa sebagai ibu yang melahirkan (ino welin Bua Wala). Wujud Tertinggi bagi orang-orang Kedang bermakna keibuhan dan kesuburan.

 Wujud Tertinggi bagi masyarakat Kedang adalah Dia yang memiliki jenis kelamin ganda. Ia bukan hanya Bapa yang mencipta, tetapi juga Ibu yang melahirkan. Pandangan yang cukup seimbang ini kemudian teraplikasi dalam kehidupan harian. Kaum hawa tidak perna diabaikan dalam setiap upacara adat. Meskipun tempat utama tetap menjadi dominasi laki-laki, namun wanita juga memiliki peran yang penting dalam kehidupan berbudaya. Perempuan biasanya memberi makan leluhur sebagai simbol penghargaan pada para leluhur. Perempuan juga memiliki tempat duduk yang sentral dalam acara-acara adat dan bukan semata-mata berurusan di dapur.

c.       Rian Nimon Ai Pu’en Ite Olor Aur Raya

 Ungkapan ini biasa diucapkan oleh molan pada saat upacara poan kemer kuraq ite dahuq taq. Poan kemer jenis ini biasa dijalankan  di bawah pohon rita. Tujuan dari poan kemer jenis ini yaitu meminta campur tangan Pencipta supaya memberikan buah hati kepada pasangan yang mendabakan keturunan. Molan biasanya mengucapkan:

Rian nimon ai pu’en ite olor aur raya, o kara petiq botin, kara dang alen, keq murun ete di’en keq anaq manusia, sema puteq kiing ling manga, sema bua binen sema baran lamen. Puteq kiing ling manga nema tu’u miteng botin rian bua binen baran lamen[5].

Wujud Tertinggi disapa sebagai Rian Nimon Ai Pu’en Ite Olor Aur Raya berangkat dari keyakinan masyarakat Kedang bahwa Rian Nimon (Wujud Tertinggi) adalah Dia yang berperan sebagai Ai Pu’en (akar pohon). Wujud tertinggi adalah akar dan dasar yang darinya tumbuh sebuah pohon dan timbul kehidupan. Nimon Rian sebagai sumber kehidupan, maka orang-orang Kedang yang tidak memiliki keturunan selalu datang memohon kepadanya agar diberikan buah hati. 

Anak yang diharapkan tentu tumbuh menjadi anak yang memiliki moral yang baik dan dapat bermanfaat bagi kehidupan orang banyak. Tujuan ini diwakili dengan ungkapan Ite Olor Aur Raya. Ite artinya pohon rita. Olor artinya lurus. Aur Raya artinya bambu. Dari arti setiap kata itu maka dapat dijelaskan bahwa anak yang diminta itu kelak memiliki moral yang lurus seperti rita dan bisa bermanfaat bagi banyak orang sebagaimana rumpun bambu.

d.      Amo Laha Tala

 Berbicara tentang manusia, tidak mungkin tanpa menyertakan satu aspek penting yang melekat di dalamnya, yakni: seksualitasnya sebagai seorang pria dan wanita. Hingga sekarang ini seksualitas masih selalu menjadi aspek yang paling menarik untuk didalami dari manusia, di samping aspek yang paling rentan untuk dilecehkan dan disalahgunakan[6]. Masyarakat Kedang pun memiliki pandangan yang menarik tentang aspek seksualitas ini. Aspek ini dihubungkan dengan Wujud Tertinggi yang nampak dalam sapaan Amo Laha Tala (Amo = Bapa; Laha = pencipta; Tala = selangkangan). Oleh karena itu, sapaan Amo Laha Tala dapat diterjemahkan sebagai bapa yang menciptakan alat kelamin manusia.

 Dampak lebih lanjut sapaan Amo Laha Tala untuk Wujud Tertinggi dalam masyarakat Kedang yakni adanya larangan kepada orang-orang Kedang untuk berbicara hal-hal menyangkut seksualitas. Pembicaraan tentang seksualitas secara sembarangan merupakan hal yang kotor karena hal ini dapat menista Wujud yang menciptakan alat itu. Seksualitas diasingkan dari pembicaraan publik dan direduksi kepada urusan privat semata-mata. Akibatnya, ada kecenderungan umum dalam kehidupan harian masyarakat Kedang untuk menyampingkan diskusi dan pembicaraan tentang seksualitas dan pendidikan seks belum benar-benar diajarkan kepada anak-anak, remaja, dan kaum muda dalam lingkungan keluarga.

e.       Ewaq Metung Noning Paning

 Masyarakat timur umumnya berpandangan bahwa melalui kurban manusia dipersatukan dengan yang Ilahi dan dengan demikian mengambil dapat mengambil bagian dari daya yang Ilahi itu. Oleh karena itu, ritus-ritus memiliki peran yang sentral dan selalu diusahakan agar upacara-upacara dilaksanakan dengan sempurna. Contoh dari pernyataan ini bisa ditemukan dalam perkembangan pikiran filosofis tentang Tuhan di India[7]. Menjadikan upacara kurban sebagai pusat hidup juga dipraktikan oleh masyarakat Kedang-Lembata.

 Masyarakat Kedang memiliki upacara kurban yang dinamakan poan kemer. Setiap upacara poan kemer selalu membutuhkan lapaq (batu kecil berbentuk ceper sebagai tempat menjalankan upacara kurban). Salah satu jenis lapaq dalam upacara poan kemer adalah lapaq ewaq. Tujuan upacara kurban pada lapaq ewaq adalah memohon berkat dan perlindungan atas hasil usaha petani, peternak dan nelayan. Upacara ini memgunakan ayam betina sebagai kurban. Ungkapan yang biasa digunakan oleh molan untuk memohon perlindungan pada tanaman adalah:

ewaq metung noning paning, ke adan ode likir be o, oma hoyoq leran libur behiq, oma ka rotaq min paro, rotaq paro hereng bele, keq tawan mean kohoq boleng, keq utan kotaq wewe ronaq, au ote leuq tenan, anen padi pulo, watar ribu rian.[8]

Sedangkan untuk lindungi hewan peliharaan maka ungkapanya sebagai berikut:

ewaq metung noning paning, ke adan ode likir be o, oma hoyoq leran libur behiq, keq ewang naung rutaq aro, keq au lehaq manuq bou, oma tadaq todoq ueng hanger, bete eleng bele auq, sema kara kuq a kara sereq sin, kara lawang umen a kara lawang dara.[9]

Dari ungkapan-ungkapan itu, jelas ditemukan adanya ungkapan ewaq metung noning paning. Ungkapan ini ditujukan kepada Wujud Tertinggi untuk memberkati dan melindungi hasil usaha petani, peternak dan nelayan. Masyarakat Kedang percaya bahwa ewaq metung noning paning memiliki kuasa untuk melindungi dan memberkati, maka dalam upacara kurban di atas lapaq ewaq dimohonkan campur tangan dari Wujud itu. 

Penutup

Manusia adalah makhluk yang memiliki kemapuan untuk merefleksikan Wujud tertingginya. Refleksi manusia selalu dimulai dari sudut pandangnya sebagai manusia. Refleksi manusia cenderung antroposentris daripada teosentris. Manusia selalu bertolak dari pengalaman indrawi dan selalu kosmosentris. Kenyataan seperti ini juga yang dialami oleh masyarakat Kedang-Lembata dalam merefleksikan sosok Wujud Tertingginya. Wujud Tertinggi dalam masyarakat Kedang selalu menjadi Wujud yang dekat dan turut berperan bahkan mempengaruhi tingkah laku dan pola hidup harian orang-orang Kedang.

 Masyarakat Kedang menyapa Wujud Tertinggi sebagai Ula Loyo Ero Auq ; Amo Laha Ula Loyo, Ino Welin Bua Wala; Rian Nimon Ai Pu’en Ite Olor Aur Raya; Amo Laha Tala; dan Ewaq Metung Noning Paning. Nama-nama kepada Wujud Tertinggi ini tentu bertolak dari lingkungan sosial-budaya masyarat Kedang. Sapaan-sapaan itu memiliki kedalaman makna dan turut mempengaruhi cara orang Kedang menjalankan hidupnya, misalnya memandang peembicaraan tentang seksualitas merupakan tabu karena ada anggapan Wujud Tertinggi sebagai Amo Laha Tala.

Corak penggunaan nama-nama kepada Wujud Tertinggi dalam masyarakat Kedang menunjukkan keragaman perspektif refleksi dan kekayaan budaya lokal. Oleh karena itu, mempelajari kebudayaan lokal itu amat perlu karena mempelajari berarti bentuk apresiasi dan penghormatan akan kekayaan dan keberagaman budaya.

 

Oleh Oktovianus Olong
Mahasiswa STFK Ledalero

 



[1]Raymundus Rede Blolong, SVD, Dasar-dasar Antropologi (Ende: Nusa Indah, 2012), hal. 90.

[2]Poan kemer sebuah upacara kurban yang dijalanan masyarakat lokal Kedang. Poan kemer memiliki beberapa arti simbolis. Makna simbolis poan kemer adalah Poan kemer sebagai sumber, puncak, dan pusat keagamaan asli kedang; sebagai upacara simbolis kepada Wujud Tertinggi; sebagai ungkapan simbolis kepada leluhur; sebagai sarana untuk menimbah berkat dan kekuatan rohani; sebagai sarana persekutuan dan komunitas persaudaraan. Hasil wawancara dengan Melkiades Mole, Masyarakat Peuuma, pada 29 April 2020 melalui handphone.

 

[3]J. Pieniezek, Filsafat Ketuhanan (ms.), Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero Maumere, 1989, hal. 24.

[4]Frans Magnis-Suseno, Menalar Tuhan (Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 2010), hal. 59.

[5]Hasil wawancara dengan Melkiades Mole, Masyarakat Peuuma, pada 29 April 2020 melalui handphone.

[6]Paskalis Lina, Moral Pribadi: Pribadi Manusia Dan Seksualitasnya  (Maumere: Penerbit Ledalero, 2017), hal. iii.

[7]J. Pieniezek, op. cit., hal. 12.

[8]Hasil wawancara dengan Melkiades Mole, Masyarakat Peuuma, pada 29 April 2020 melalui handphone.

[9]Hasil wawancara dengan Melkiades Mole, Masyarakat Peuuma, pada 29 April 2020 melalui handphone.

 

1 comment for " Sapaan-Sapaan kepada Wujud Tertinggi dalam Kehidupan Berbudaya Masyarakat Kedang, Lembata"