Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Widget Atas Posting

Apakah Masih Ada Frans Paya Baru di Lembata?

 


*Oleh Osin Bahy

RakatNtt.com – Kabar duka menyelimuti warga Kabupaten Lembata. Frans Paya telah meninggal dunia pada Senin, 20 Maret 2023 Wita di Desa Leuwayan. 

Berita kematian Frans Paya Apelabi ini sekaligus melahirkan sebuah pertanyaan; Apakah masih ada Frans Paya baru di Lembata? Untuk menelusuri pertanyaan ini, mari terlebih dahulu kita mengenal Frans Paya secara singkat. 

Siapa itu Frans Paya?

Guru Frans Paya lahir pada tahun 1956. Pada tahun 2020 penulis sempat berbincang langsung dengannya di Desa Leuwayan untuk mengetahui sejarah perjalanan dirinya dalam mengembangkan seni tari dan musik di Kedang dan Lembata secara umum. 

Antusiasme dalam menjawab pertanyaan menjadi bukti jiwa Frans Paya dalam dunia seni amat luar biasa. Ia tidak hanya pintar berbicara tentang seni musik dan tari tetapi sekaligus mempraktikkan secara langsung di hadapan tamu (penulis). 

Pada dinding rumah yang tersusun rapi dari belahan bambu, terpampang beberapa foto penghargaan yang diterima oleh Frans Paya. Penghargaan dari tingkat Kabupaten, Provinsi bahkan nasional sudah ia terima sebagai hasil dari jerih payanya dalam mengembangkan dunia seni. 

Salah satu penghargaan luar biasa yang ia peroleh yakni pada 17 Oktober 2017, ia menerima Piagam penghargaan dari Anugerah Pustaka Nusantara di Jakarta. Abdul Gafur Sarabiti, salah seorang pegiat budaya Lembata bahkan pernah mengusulkan agar Frans Paya bisa menerima Anugerah Kebudayaan Indonesia tahun 2022. Namun, kondisi kesehatannya semakin menurun dan berpuncak pada kematiannya. 

Musik tradisional seperti tatong atau juga gong gendang juga tarian daerah Kedang menjadi lebih populer – beruntung karena belum punah – berkat perjuangan dirinya. Ia mendirikan sanggar Uyelewun yang bermarkas di Desa Leuwayan, Kecamatan Omesuri. 

Dari kecintaan terhadap tatong yang pada mulanya hanya dikenal di Kedang, kini sudah dijadikan musik khas Kabupaetn Lembata. Media-media massa pun ramai-ramai memublikasikan musik tradisional yang diperkirakan lebih tua dari Sasando tersebut.

Frans Paya Baru

Kepergian Frans Paya merupakan takdir yang tak bisa dibantah. Walaupun raganya sudah tiada tetapi jiwa seninya mesti tetap ada dan “merasuki” jiwa generasi muda Kedang dan Lembata secara umum untuk terus mengembangkan seni musik maupun tari tradisional. 

Kepergiannya ini diratapi oleh banyak pihak. Setiap ratap tangis tentu tersembunyi harapan-harapan. 

Saat ini, pengembangan seni tari dan musik tradisional di wilayah Lembata sudah mulai nampak satu per satu. Sanggar seni yang semakin bertumbuh tersebut mesti mendapat dukungan dari Pemerintah Daerah setempat.

Selain pengembangan seni tradisional, kreativitas seni musik sesuai tuntutan zaman pun semakin subur di Lembata. Konten-konten youtube yang dikembangkan oleh generasi muda Lembata semakin menunjukkan bahwa Lembata tarus mengembangkan seni dalam bentuk apapun.

Lagu-lagu berbahasa daerah Kedang dan Lamaholot dikembangkan dengan musik kekinian yang tak juga meninggalkan musik tradisional. Semua yang sedang berkembang dan bertumbuh mesti mendapat apresiasi.

Namun, mesti diingat bahwa kreativitas tersebut tak boleh menghilangkan keaslian tradisional kita. Itu menjadi sebuah tantangan yang mesti dipikirkan agar "Frans Paya baru" bisa tetap ada dan dilahirkan berlipat ganda jumlahnya. ***

*Guru Honorer pada SMAN 2 Nubatukan, Lembata

Post a Comment for "Apakah Masih Ada Frans Paya Baru di Lembata?"