Mengapa Orang Kedang Tetap Menjaga Buku Dese’
RakatNtt - Beberapa minggu lalu atau mungkin bulan, beberapa anak muda melalui facebook mencoba membandingkan dulang dan buku dese’ yang dipakai dalam tradisi pesta di Kedang. Masing-masing punya alasan dengan argumentasi yang masuk akal. Tulisan singkat ini tidak omong tetang dulang tetapi buku dese’.
Buku dese’ adalah wadah yang digunakan untuk menyimpan beras, jagung giling dan jagung titi untuk dibawa ke tempat pesta atau hajatan adat tertentu. Banyak orang termasuk saya mulai mengkritik tradisi buku telu. Namun, dalam keterlibatan saya, di Kedang pedalaman, tradisi buku telu sepertinya sulit sekali diubah karena sudah sangat mengakar. Wadah buku dese’ dalam tulisan ini punya makna dan manfaat untuk warga lokal Kedang dalam beberapa aspek, misalnya ekonomi, budaya maupun estetika.
Buku dese’ adalah hasil ciptaan dari mama-mama yang setia tinggal di kampung. Mereka harus menganyam buku dese’ dengan penuh ketekunan dan keseriusan. Hasil anyaman mereka terlihat begitu indah dan mengagumkan mata. Ketika buku dese’ dihilangkan dan diganti dengan wadah lain misalnya dulang, aspek estetika dan kerja keras mama-mama untuk menganyam buku dese’ terancam punah dan generasi kehilangan pengetahuan lokal.
Berikutnya aspek ekonomi, mengapa kita harus memertahankan buku dese? Ya, karena melalui buku dese’ aspek ekonomi bisa berjalan. Kita bisa membantu mama-mama di kampung, membeli hasil karya mereka. Inilah aspek ekonominya. Karena itu, buku dese’ tidak boleh diganti.
Yang
terakhir, aspek budaya. Buku dese’ adalah warisan lokal yang menegaskan
identitas budaya kita sebagai orang
Kedang. Ketika buku dese’ diganti dengan wadah lain, identitas budaya kita
suatu saat akan tergusur dan hilang. Kita akan kehilangan identitas budaya kita
yang indah dan penuh makna. Jadi buku dese’ harus dijaga, dirawat agar tetap
hidup baik melalui mama-mama yang menganyamnya maupun diwariskan kepada
generasi berikutnya.

Post a Comment for "Mengapa Orang Kedang Tetap Menjaga Buku Dese’ "
Komentar