Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Widget Atas Posting

Orang Mati Tetap Hidup dan Makan Bersama dengan Kita saat Ada Peristiwa Kematian

 


RakatNtt - Ternyata budaya “pesta” dalam peristiwa kematian Hoe’lale’ maten Bitan di Kedang Lembata punya makna tersendiri. Jika dilihat  dari kaca mata  ekonomi mungkin memboroskan tetapi bukan itu yang dipersoalkan. 

Masyarakat kedang tetap memelihara tradisi pesta dalam peristiwa kematian – pesta yang dimaksudkan merujuk pada makan nasi daging tambah dua piring; keluarga yang datang membawa beras dll, termasuk kambing atau babi – karena ada  sesuatu yang lebih  penting.

Ketika ditanya tentang alasan budaya  ini tetap dijaga, masyarakat Kedang punya alasan tersendiri, termasuk soal baku bantu dalam setiap peristiwa kematian. Soal hal ini, lain kali baru dibahas. Saya coba kembali ke judul tulisan ini soal kepercayaan tentang hidup setelah mati. 

Bukan hanya agama besar dan Kitab Sucinya yang berbicara tentang kehidupan eskatologis melainkan kepercayaan lokal orang Kedang sudah lebih dulu menjelaskan kepercayaan ini. Bukan hanya melalui sabda, kata-kata tetapi ada aktivitas simbolik yang merujuk pada kepercayaan ini. Misalnya, ada tradisi ritus kasih makan leluhur atau orang mati (tuan).

Lebih jelas lagi, dalam peristiwa kematian, setiap keluarga yang datang (lala-lala) punya hubungan darah dengan orang mati. 

Ketika semua yang datang membawa nahun nohan – jagung, beras, ikan, sirih pinang, babi/kambing – artinya, ada kepercayaan tentang kehadiran tuan atau orang mati. Para  leluhur yang datang juga diyakini ikut makan bersama dengan anak cucunya yang masih hidup.

Ketika acara makan bersama, maka sebelum makan, kita atau orang hidup harus lebih dulu kasih makan leluhur atau keluarganya yang sudah mati. Masing-masing orang memberikan sedikit makanan seperti daging dan nasi kepada leluhurnya dengan cara  buang ke tanah (hu’I maran). Karena itu, peristiwa makan bersama saat  kematian bisa berarti ada perjumpaan antara orang hidup dan mati. 

Karena itu, setiap kita yang datang wajib makan di rumah duka. Sebab makan di rumah duka artinya kita mau kasih makan leluhur kita. Ketika kita tidak makan, artinya kita tidak memberi makan leluhur kita dan hal ini dianggap sebagai puting atau larangan.

Dari penjelasan ini, maka setiap keluarga yang datang membawa makanan atau sumbangan (buku telu) harus diterima tanpa memisahkan satu dengan yang lain. Nahun nohan harus digabung dengan nahun nohan milik keluarga lain yang datang. Ketika ada yang sengaja memisahkan dengan alasan yang tidak jelas, artinya, para leluhur yang datang pun merasa sakit hati.

Yang paling mendasar dari tulisan ini berarti bahwa orang Kedang percaya ada kehidupan setelah kematian. Mereka yang mati tidak pergi jauh dari kita yang masih hidup. Lantas kita bertanya; apakah ada surga dan neraka? Atau jangan sampai wkwkwkwk.

Post a Comment for "Orang Mati Tetap Hidup dan Makan Bersama dengan Kita saat Ada Peristiwa Kematian"