Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Widget Atas Posting

Perang Bukan Warisan Nenek Moyang Kita

 

Ilustrasi

RakatNtt - Kitab Suci menjelaskan bahwa Tuhan bilang segala sesuatu yang Ia ciptakan baik adanya. Dari semua yang diciptakan itu, manusia mendapat peringkat super atau nomor satu karena ia ada otak untuk berpikir. 

Namun, sejarah menjelaskan, kerusakan terbanyak justru diciptakan oleh manusia yang sudah punya isi otak. Manusia membunuh sesamanya karena ada dorongan egoisme, ada dorongan untuk mau  menang sendiri secara tidak sehat, salah  satunya  saling membunuh atau mencelakakan.

Perang tanding yang hari ini viral di media sosial dan menjadi peluang uang bagi para pembuat konten di FB Pro merupakan contoh bahwa manusia masih mau menang sendiri dengan jalan yang negatif. Padahal, ia punya otak untuk berpikir. Misalnya, ia berpikir untuk menemukan jalan keluarnya. Jangan omong jauh-jauh di Iran sana, kita di Flores Timur, saat ini dinodai lagi dengan perang tanding antar-dua kampung di pulau Adonara. 

Walaupun saya bukan orang Adonara tapi saya paling tidak suka mendengar ada orang menganggap perang tanding semacam ini sebagai budaya warisan nenek moyang. Memang faktanya demikian, bahwa nenek moyang kita dulu kala juga sering berperang tetapi hal semacam demikian tidak boleh dianggap sebagai warisan tetapi sebagai noda masa lalu yang harus dipulihkan dan diperbaiki.

Konflik tanah tak seharusnya menggunakan parang sebagai solusinya. Dalam perang tidak ada yang menang; semuanya kalah. Anak-anak menjadi trauma, ibu-ibu hamil ketakutan. Saya yakin bahwa kearifan lokal kita punya banyak sekali nilai universal tentang kemanusiaan. Ata diken: orang baik menegaskan bahwa sejak awal kita sesungguhnya diwariskan sebuah identitas dasar tentang kebaikan. Namun, di balik identitas dasar itu, justru yang terlihat adalah kekacauan, perang, konflik dan lain sebagainya.

Pada sisi lain kita juga begitu bangga mewartakan kepada dunia tentang adat, budaya dan kearifan lokal kita yang kaya raya. Penduduk diaspora yang merantau ke berbagai wilayah menggunakan nama Lamaholot sebagai identitas yang mengikat. Namun, di balik kebanggaan itu, konflik, perang masih saja kita alami hingga hari ini di kampung halaman kita.

Pertanyaannya sederhana saja; apakah tidak ada solusi lain yang lebih berwibawa selain perang? Apakah  kita bangga mencari kebenaran melalui jalur perang? Apakah tidak ada proses kearifan lokal lain yang lebih ramah, katakanlah melalui proses ritus adat? Apakah kebenaran identik dengan perang?

Kita juga sering bangga diri dengan ungkapan-ungkapan  palsu misalnya NTT keras Bos! Apanya yang keras? Apakah keras karena kita suka marah  orang di tanah rantau, suka buat kacau? Lalu apa yang mau kita banggakan. Kesadaran palsu semacam ini mestinya mendorong  kita untuk membuat refleksi, untuk menyadari yang palsu dan asli, khas milik kita. 

Dalam konteks perang, kita harus sadar bahwa perang bukan budaya kita, bukan warisan nenek moyang. Perang bukan jalan kearifan lokal mencari kebenaran. Kita mesti berbenah. Sayangnya bahwa kita lupa kearifan lokal dengan nilainya  yang kuat. Nilai tentang kebenaran, keadilan, tentang tidak boleh tipu muslihat, orang punya ya orang punya, kita punya, ya kita punya. Namun, jika kita sengaja merubahnya secara sadar, sudah pasti konflik akan pecah.

Bukan hanya perang, banyak nilai kearifan lokal lainnya yang mestinya kita gali untuk menemukan kesejatiannya. Sayangnya di sekolah-sekolah kita lebih suka dengan cerita-cerita asing  entah melalui agama dan Kitab Suci maupun budaya-budaya yang lebih kuat misalnya Jawa karena selalu tercantum dalam buku-buku Mapel. 

Kita hampir kehilangan pengetahuan kita tentang milik kita. Kita merasa dan berpikir salah bahwa kearifan lokal kita  nilainya lebih rendah daripada yang datang dari luar. Padahal kalau kita belajar baik-baik tak ada kearifan lokal yang mendukung perang saudara. Perang adalah hasil ciptaan diri kita karena amarah tanpa tenang dan berpikir rasional.

Post a Comment for "Perang Bukan Warisan Nenek Moyang Kita "