Tradisi Lisan dan Keyakinan Tutu’ Koda Pau Wade’ Menjadi Bias Kepentingan dan Masalah
RakatNtt - Faktanya hingga hari ini, masih ada tetua adat kita yang begitu yakin pada kebenaran tradisi lisan atau tutu’ koda pau wade’. Mereka yakin sekali pada kebenaran tuturan yang diwariskan. Bahkan ada ungkapan filosofi yang masih berkaitan dengan kebenaran sebuah cerita yakni muar, muar ruang-kehe, kehe ruang. Karena itu, sebagai generasi baru kita seringkali bingung dengan keyakinan semacam ini. Apalagi ketika kita dihadapkan pada persoalan horisontal yang dasarnya adalah konflik versi lisan tentang sebuah obyek sengketa, katakan saja tanah adat di wilayah sebuah kampung.
Kita sering menemukan perdebatan tentang tanah adat, keaslian suku, siapa yang berhak dan tidak, yang masih dikuasai persoalan perbedaan versi. Mengapa semua ini bisa terjadi? Tentu saja, kita mesti kembali bertanya pada keyakinan dasar kita tentang tutu’ koda pau wade’. Walaupun demikian, tradisi lisan selalu lemah; ia tidak kuat jika dibicarakan pada zaman dataisme terkini. Saat ini, yang dibutuhkan adalah data tertulis bukan versi lisan yang membias.
Namun, coba kita renungkan, sejak kapan versi lisan dalam budaya kita yang kita anggap sangat fundamental dan sakral justru menjadi bias dan melahirkan masalah? Sejak kapan semua ini menjadi terbengkalai? Padahal sejak awal mula, keyakinan tentang tutu’ koda pau wade’ selalu menjadi kompas dalam menata kehidupan dan aktivitas sosial kita. Tentu jawababnnya dapat dipengaruhi oleh banyak faktor. Ada faktor politik masa lalu dan masa kini, faktor regulasi, pendidikan yang bahkan lebih menjagokan kesombongan intelektual, faktor murun rai atau semakin banyak manusia, faktor ego atau DNA tidak jujur yang terus diwariskan, faktor tidak membuka diri dan lain sebagainya.
Faktor-faktor demikian, melahirkan bias versi, kepentingan suku dan narasumber. Wadah diskusi kolektif untuk menemukan benang merah pun menjadi tak beraturan. Menghadapi situasi seperti ini, kita tidak bisa omong santai dan membiarkan masalah terus bertumbuh di kampung. Kepala Desa harus paham strategi meluruskan persoalan. Anak-anak muda mesti ada ruang terbuka komunikasi tanpa rasa takut dan saling curiga karena isu-isu liar yang melupuhkan nalar sehat kita.
Dalam budaya kita, koda wade’ itu warisan yang berakar pada kebenaran. Namun, kini menjadi sumber konflik ketika dihadapkan pada satu pokok persoalan. Maka, solusinya adalah mulai menulis. Melakukan penelitian mendalam, menulis dan mengajak diskusi atau seminar. Ini adalah langkah strategis bagi orang yang ingin mencari kebenaran dan punya harapan futuristik. Terlebih, harapan seperti ini harus ada dalam diri Pemerintah Desa dan anak-anak muda. Menulis harus mulai dilakukan dengan metode tertentu agar ada satu sumber untuk bisa dibedah bersama. Jadi, mari mulai menulis tentang kampung kita masing-masing.

Post a Comment for "Tradisi Lisan dan Keyakinan Tutu’ Koda Pau Wade’ Menjadi Bias Kepentingan dan Masalah"
Komentar