Kampung Atenila Akan Menjadi Besar, Hanya Satu yang Kurang
![]() |
| Anton Kiben (depan) dan Rian Odel (belakang) |
RakatNtt - Saya pertama kali ke kampung Atenila – Atanila – sekitar 20-an tahun lalu Ketika masih duduk di bangku SD sehingga ingatan saya sudah samar-samar tentang kampung di selatan Kedang ini. Saya bersyukur, bisa mengunjungi lagi kampung ini untuk kedua kalinya pada bulan Maret 2026. Perjalanan dari Wowon ke Atenila bisa dikatakan mengasyikkan. Saya menikmati lekak-lekuk jalan, lumpur, genangan air, jalan berbatu dan becek yang cukup menghambat perjalanan dan menyita waktu juga menguji keberanian dan kesabaran..
Namun, perjalanan ini adalah bagian dari menemukan pengalaman baru bagi saya. Jika saya tak mengunjungi kampung ini, bisa jadi tak ada cerita tentang Atenila. Karena itu, saya harus bilang, perjalanan ke kampung ini adalah sebuah keasyikan tersendiri bagi saya. Dari Hule menuju Atenila, bentangan kekayaan alam dapat kita jumpai pada kiri-kanan jalan. Hasil alam yang kaya, mata air yang mengalir tanpa hambatan selalu tersedia. Sungguh, baik kampung Hule maupun Atenila ada potensi yang tersembunyi. Khusus untuk Atenila, saya harus katakan bahwa suatu saat nanti kampung ini akan maju.
Dulu, orang omong Atenila berarti merujuk pada sebuah kampung yang udik dan terpencil, jauh dari keramaian layaknya kampung-kampung lainnya di pedalaman Kedang. Namun, sekarang semua cerita itu telah terhapus dan dilukis dengan kisah yang baru. Rumah penduduk sudah mulai padat, Kantor Desanya terlihat megah dan indah, ada sekolah dan rumah ibadah juga fasilitas umum lainnya. Warga di sana pun sudah mulai banyak yang menetap berdampingan dan membentuk kisah di kampung penuh cerita sejarah ini. Uniknya lagi, warga di kampung ini menggunakan dua Bahasa Daerah. Ada Bahasa Kedang, dan ada satu Bahasa Daerah lagi yang mungkin mirip dengan Bahasa Lamaholot – tapi katanya bukan Bahasa Lamaholot? Unik bukan?
Jadi uniknya orang Atenila yakni ketika diajak omong Bahasa Kedang mereka layani kita, Ketika menggunakan Bahasa Daerah yang lainnya, mereka layani juga. Logat orang Atenila pun berbeda dengan orang Kedang lainnya. Ya, tak dimungkiri, namanya juga kampung perbatasan, sudah jelas selalu ada pembauran budaya termasuk salah satunya Bahasa Daerah. Saya sungguh mengagumi kampung ini; bukan saja karena nenek moyang saya juga dulu pernah menetap disini – Ola’ Wolo’ Odelwala – yang menginspirasi saya menulis cerita ini dengan keyakinan yang sangat dalam, melainkan juga saya melihat ada harapan besar dari orang Atenila tentang masa depan mereka. Semua potensi dan sumber daya sudah lengkap. Lantas apa yang kurang? Menurut saya hanya satu. Apa itu? Infrastruktur jalan.
Ya,
Atenila hanya kurang satu yakni jalan. Jika Pemerintah benar-benar memerhatikan
pembangunan jalan mulai dari Wowon
sampai Atenila, hmm, suatu saat Atenila akan menjadi besar; banyak orang akan
tertarik menjadi warga Atenila. Jadi, semoga, ada uluran tangan dari Pemerintah
untuk memerhatikan kampung ini. Jalan adalah salah satu harapan besar mereka.

Post a Comment for "Kampung Atenila Akan Menjadi Besar, Hanya Satu yang Kurang "
Komentar