Ritus Hitam Keba Depi untuk Cabut Nyawa Orang Punya Risiko Buruk
RakatNtt - Sampai hari ini, banyak di antara kita masih dihantui dengan cerita-cerita mistis yang sulit dipahami secara akal sehat. Kita pernah mendengar cerita tentang santet, suanggi, tuyul dan lain sebagainya. Cerita-cerita seperti demikian, masih dipercaya oleh sebagian masyarakat khususnya yang hidup atau menetap lama di kampung. Salah satu kepercayaan yang masih sering kita dengar yakni cerita tentang ritus hitam untuk mencabut nyawa orang baik secara pribadi maupun secara suku.
Bukan hanya sekadar cerita, ritus hitam ini di beberapa tempat masih dilakukan oleh oknum-oknum tertentu untuk mencelakai bahkan mencabut nyawa orang tertentu. Kami di Kedang, menyebut ritus hitam dengan nama Keba Depi. Ritus ini mungkin sampai hari ini masih dilakukan oleh oknum tertentu karena mungkin sedang berkonflik dengan orang lain entah secara pribadi maupun secara suku.
Biasanya ritus ini dilakukan karena dilatari dengan masalah tertentu, misalnya konflik tanah ulayat atau batas kebun. Misalnya ketika dua suku sedang konflik ulayat, seringkali suku tertentu membuat ritus untuk mencabut nyawa anggota suku lainnya yang sedang berkonflik dengan suku tersebut. Ritus ini dilakukan oleh seorang molan atau dukun kampung atas dukungan mayoritas warga. Mereka akan mencari wangun (dosa/kesalahan) dari suku lain sebagai alasan untuk mencabut nyawa anggota suku tersebut.
Namun demikian, perlu kita sadari bahwa ritus hitam – keba depi punya risiko atau dampak buruk jangka panjang. Jika suku lain yang menjadi sasaran ritus hitam tidak punya kesalahan mendasar atau mereka berada pada pihak yang benar maka, siap-siaplah peluru akan kembali mencari para pelaku. Dalam Bahasa Kedang disebut hong toyaq nimoq pihaq – pasang duri lalu sendiri injak. Artinya, orang yang membuat ritus hitam tidak punya dasar alasan yang kuat. Mereka justru berada di pihak yang salah tetapi sedang kehilangan akal sehat dan tidak sadar diri.
Jika orang yang berada di pihak yang salah tetapi berani melakukan ritus hitam, misalnya Keba Depi atau Lata’ Sayin, maka silahkan bertanggungjawab kepada kekuatan-kekuatan gaib seperti mi’er renga dan sebagainya.
Oleh karena itu, jika anda pernah terlibat dalam ritus keba depi dan lata’ sayin tetapi justru anda yang kena akibatnya, maka harus sadar bahwa anda salah orang dan andalah orang yang salah itu. Jika tidak cepat dilakukan ritus pemulihan, ehe’ pe’ bela kame, maka risiko buruk akan terus melanda para pelaku ritus hitam – silahkan melihat sendiri pada realitas yang ada.
Tidak Makan Bersama
Anda mungkin bingung; kok tiba-tiba ada orang atau suku tertentu tidak diundang dalam setiap hajatan atau kegiatan umum. Anda mungkin bingung, kok anda dilarang tidak boleh makan bersama dengan orang-orang tertentu dari suku tertentu?
Jika anda pernah mengalami fenomena ini, bisa jadi dan patut dicurigai ada ritus hitam yang pernah dilakukan – entah keba depi atau lata’
sayin. Jadi kita bisa langsung curiga jika
ada fenomena larangan makan bersama padahal tidak ada masalah tertentu atau
padahal semuanya keluarga dekat, maka patut dicurigai ada ritus hitam yang
pernah dilakukan.
Ritus
hitam yang dilakukan ini akan terus memberi bukti berupa kematian tak wajar, mati
tiba-tiba, celaka tiba-tiba dan seterusnya. Ketika fenomena keburukan ini tidak
direfleksikan dalam kaitan dengan ritus
hitam maka keburukan akan terus menguasai kita.
Dan
bagi para pelaku ritus hitam, BERTANGGUNGJAWABLAH ATAS PERBUATANMU KEPADA TUHAN,
ALAM SEMESTA DAN LELUHUR. JANGAN LEMPAR BATU SEMBUNYI TANGAN.

Post a Comment for "Ritus Hitam Keba Depi untuk Cabut Nyawa Orang Punya Risiko Buruk"
Komentar