Siapa Orang Kedang Pertama yang Menjadi Guru?
RakatNtt - Pendidikan di
Kedang mengalami perkembangan yang cukup cepat. Hal ini tak terlepas dari peran
misi Katolik yang mulai menancapkan Pendidikan awal mula di Peula’a, Aliuroba,
Kedang. Namun, patut kita ketahui, misi katolik sebenarnya sudah membuka
lembaran Pendidikan pertama di E’ar atau Kekar tahun 1915. Sekolah Rakyat Katolik
di E’ar dibuka oleh pater Hoeberecths, SJ. Namun, sekolah ini kemudian tidak
bertahan. Benih Pendidikan pun mencari tempat
baru di Peula’a Aliuroba 1925.
Dari Sekolah Rakyat Katolik Aliuroba, Pendidikan mulai
berkembang ke berbagai penjuru Kedang. Dalam wawancara saya dengan Stephanus
Matur Odel (89), pada zaman dulu, para murid yang mengenyam Pendidikan di SRK Aliuroba,
rata-rata umurnya sudah “tua”. Dirinya sendiri bahkan masuk SRK Aliuroba tahun 1945-1951
ketika berumur 9 tahun. Ada teman-teman lain bahkan sudah belasan tahun – teman
kelasnya Adalah guru Endi Teheq. Banyak di antara mereka yang tidak memakai
baju – Perempuan memakai sarung (boka’ wela). Namun, ada seorang Bruder yang
datang kemudian mulai menyuruh agar pakaian anak sekolah mesti diperhatikan.
Dalam ingatannya, ada beberapa orang Mahal yang mengenyam
Pendidikan tahun pertama di Peula’a Aliuroba tahun 1925, salah satunya Saruang
Kata. Namun, untuk lebih jelas harus dicari tahu lagi pada buku induk SDK Aliuroba.
Selain itu, ada cerita baru yang mesti kita ketahui tentang Pendidikan di
Kedang. Kira-kira siapa orang Kedang
pertama yang menjadi guru di Kedang bahkan melayani sampai di luar
Kedang. Nene Ayah – begitu kami biasa menyapanya – menegaskan dengan percaya
diri bahwa guru pertama untuk Kedang Wela-Watan adalah Yohanes
Fransiskus Tua Lobemato.
“Yan Tua ini masuk Seminari di Mataloko kemudian
pulang mengajar saya di SRK Aliuroba selama satu tahun. Setelah itu diminta
untuk ke Tomohon melanjutkan Pendidikan, lalu oleh Pemerintah diminta mengajar
di Baubau Makassar sampai pensiun,” ungkap Stephanus Matur dengan semangat. Ia mengharapkan
agar generasi muda Kedang mesti tahu dengan jelas dan pasti bahwa guru pertama
untuk Kedang Wela dan Watan adalah Yohanes Tua atau Yan Tua
Lobemato. Dalam cerita lisan, teman kelas Yan Tua waktu di Seminari Mataloko
kemudian ke Manado adalah Yan Kia Poli. Wikipedia menjelaskan Yan Kia Poli
melanjutkan Pendidikan di Manado tahun 1949. Jika begitu, maka Yan Tua pun
demikian.
Menjadi Guru di Adonara
Setelah tamat SRK Aliuroba tahun 1951, Setephanus
Matur melanjutkan Pendidikan ke Seminari Hokeng selama tiga tahun. Pada tahun
1953, ia harus keluar dari Seminari Hokeng
karena nilai Bahasa Latinnya tidak memenuhi tuntutan aturan sekolah.
“E’i Seminari hanya tiga tahun tidak tamat karena
jatuh di Bahasa Latin. Saat liburan pastor hoing tele bale libur mete me’ nore
napa lunin bale mema’,” kenangnya sambil tertawa. Ketika hendak berlibur,
pastor di Seminari Hokeng menyuruhnya untuk membawa sekaligus dengan bantal dan
tikar. Artinya, ia pulang libur untuk selamanya – keluar dari Seminari Hokeng
karena kalah Bahasa Latinnya. Salah satu guru yang mengajarnya di Hokeng yakni
Donatus Djagom.
Dari Hokeng, ia berpindah ke Larantuka, masuk sekolah
SGB Larantuka dan tamat pada tahun 1956. Usai tamat, ia mengabdi sebagai guru
di Lamahelan Adonara lalu tahun 1957 pindah ke Lamabunga sekaligus mengajar di
SDK Papageka 1957-1958. Pada tahun 1958-1959 pindah kembali ke Lamahelan. Kemudian,
tanah Kedang memanggilnya pulang untuk mengabdi di Aliuroba tahun 1959-1960. Pada
tahun 1960-1962 pindah lagi ke Adonara tepatnya di Hinga. Ia mengajar Bahasa
Indonesia dan Bahasa Inggris. Cerita selanjutnya ia pulangmengabdi di Kedang
misalnya di Tua’mado dan Hobamatan.
Sedikit Cerita tentang Jepang
Saya coba mengorek secara singkat tentang Jepang di
Kedang. Ia mengisahkan bahwa dulu Jepang memilih orang-orang pintar dari Kedang
untuk pergi sekolah di Hadakewa. Untuk di Mahal, Stephanus Matur menceritakan
bahwa Idris Kata Hobamatan dipilih Jepang untuk sekolah di Hadakewa – atau di
Sawarlaleng?
“Idris Kata itu pintar, Amir Kata juga pintar dan Dato’
Kata juga pintar. Nah, karena pintar Idris ini dipilih Jepang untuk
sekolah di Hadakewa,” kisahnya.
Cerita-cerita yang tercecer seperti ini jika
dikumpulkan, diperdalam secara serius dan ditulis dalam buku kecil pasti ada
maknanya untuk generasi penerus. Betul to?

Post a Comment for "Siapa Orang Kedang Pertama yang Menjadi Guru?"
Komentar