Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Widget Atas Posting

Orang Lembata Wajib Baca Lima Buku ini

 

Orang Lembata Wajib Baca Lima Buku ini

 

U

ntuk mengenal suatu daerah tertentu, setiap orang memiliki metode kreatif tersendiri. Ada yang mencarinya lewat google, menonton di youtube atau menjadi petualang yang turun langsung dan menjelajahi daerah tersebut.


Selain itu, ada yang membaca lewat koran-koran, majalah atau buku-buku yang isinya tentang daerah yang dimaksud. Artinya, sebagaimana saya sebutkan di atas bahwa untuk mengenal suatu daerah, setiap orang memiliki metode tersendiri.

Salah satu metode yang menurut saya paling tepat yaitu membaca lewat buku-buku. Sebab lewat buku, kita bisa memahami secara lebih kompleks dan mudah suatu daerah tertentu. Buku yang sudah diterbitkan tentu sudah melewati proses editing sehingga isinya pasti sangat layak.

Bagi orang Lembata, Nusa Tenggara Timur, menelusuri Lembata tentu tidak mudah. Sebab pulau kecil itu memiliki wilayah yang unik. Ada sejarah, budaya dan bahasa daerah serta keindahan alam yang beranekaragam. Karena itu, ada lima buku yang saya rekomendasikan kepada anda yang ingin mengenal Lembata lebih jauh, baik anda yang berasal dari Lembata maupun daerah lain tetapi ingin mengenal Lembata.

Pertama, Pesona Lembata Tanah Baja

Buku dengan tebal 106 halaman ini ditulis oleh dua orang yang berasal dari Lamalera yakni B. Michael Beding dan S. Indah Lestari Beding. Sebagian besar isi buku ini mengulas tentang keunikan budaya, sejarah, flora-fauna yang ada di Lembata.

Pada bagian sekapur sirih diisi oleh bupati Lembata – saat buku ini terbit – Andreas Duli Manuk. Ia mengapresiasi penulisn buku ini sebagai langkah maju demi membangun Lembata. Selain itu, ulasan tentang sejarah Lembata sejak masa kepurbakalaan hingga abad modern. Misalnya, ada ulasan tentang nama Lembata purba, silsilah orang Kedang-Uyelewun, eksodus dari Lepan Batan dan lain-lain.

Salah satu yang unik yakni tentang lintasan patih Gajah Mada. Dalam buku tersebut juga disebut bahwa ada versi tertentu di daerah Kedang bahwa Gajah Mada berasal dari Kedang. Selain itu, ada jenis-jenis tarian derah, kesenian, ritus-ritus tradisional dan juga tentang potensi alam.  Jika anda penasaran, silakan baca buku ini; diterbitkan oleh Penerbit Nusa Indah (2006).

Kedua, Geliat Demokrasi di Kampung Halaman

Buku ini ditulis oleh Viktus Murin, salah seorang putra Lembata dan politisi senior dari partai Golkar. Tulisan ini sebagai kado 10 tahun Otonomi Lembata dan diterbitkan oleh Lembaga Kajian Kebangsaan (2009), dengan tebal 229 halaman.

Sesuai judul buku ini, substansinya lebih banyak tentang situsi sosial-politik sejak Lembata menjadi daerah otonom lepas dari Kabupaten Flores Timur. Buku ini terbagi atas beberapa bagian yakni bagian satu (artikel utama). Kemudian prolog oleh Dion DB Putra. Pada bagian ini berisi 15 artikel dan epilog ditulis oleh Dr. Kotan Y. Stefanus, SH., M. Hum.

Bagian dua (kumpulan komentar) berisi tiga artikel yakni komentar pelaku sejarah dan sesepuh Lembata, komentar tokoh nasional asal Lembata dan Komentar para tokoh. Bagian tiga (Kapita Selekta) berisi 10 artikel. Sedangkan bagian akhir tentang biodata penulis.

Selain itu, pada bagian sampul buku tertulis komentar dari empat sesepuh dan tokoh sejarah pejuang otonomi Lembata yakni Petrus Gute Betekeneng, H.M. Ali Rayabelen, Markus Sidhu Batafor dan Brigjen Pol (Purn) Drs. Anton Enga Tifaona.

Ketiga, Pertambangan di Flores-Lembata; Berkah atau Kutuk?

Buku ini terbit bertolak dari keresahan masyarakat terkait masalah pertambangan di Flores dan Lembata. Mayoritas penulis dalam buku ini merupakan imam katolik, pejuang kebenaran, keadilan dan keutuhan ciptaan. Sebut saja P. Vande Raring, SVD, P. Alex Jebadu, SVD, P. Steph Tupeng Witin, SVD dan masih banyak lagi.

Khusus untuk konteks Lembata, investasi pertambangan pernah menjadi masalah heboh sekitar tahun 2007-2008. Daerah yang direncanakan menjadi lahan pertambangan yakni Kedang dan Leragere. Mau tahu situasi tentang pertambangan di Lembata waktu itu? Ayo, baca buku ini. Tebalnya 416 halaman; diterbitkan oleh penerbit Ledalero, Maumere (2009). Para editor buku ini yakni Alex Jebadu, Marsel Vande Raring, Max Regus, dan Simon Suban Tukan.

Keempat, Lembata Negeri Kecil Salah Urus

Buku yang sangat diminati oleh banyak pembaca ini ditulis oleh anak asli Lembata yaitu Steph Tupeng Witin. Ia adalah seorang imam katolik dalam Serikat Sabda Allah. Imam yang adalah seorang jurnalis ini sudah populer dengan banyak tulisan khususnya kritikkannya terhadap pembangunan di Kabupaten Lembata yang menurutnya terbengkalai atau salah urus.

Buku dengan tebal 324 halaman ini berisi kritikkan terhadap kekuasaan di Lembata yang memproduksi banyak masalah. Sebut saja beberapa judul yakni Bupati Panik (?), Reli Wisata versus Utang Pemkab (hlm. 177), Polisi Lembata ‘Putar Bale’ (hlm. 218).

Dari judul tersebut, anda bisa menafsir bahwa isi buku ini tentang carut-marut situsi sosial-politis di Kabupaten satu pulau ini. Prawacana buku ini ditulis oleh Romo Frans Amanue, Pr, seorang imam Keuskupan Larantuka. Ia, kini sudah berada di surga kekal.

Kelima, Membangun Tanpa Sekat

Buku ini merupakan terbitan terbaru yang mengulas tentang pembangunan di Kabupeten Lembata. Editor buku ini yakni Ansel Deri dan Justin L. Wejak; pengantar buku ditulis oleh Johnny G. Plate, Menteri Komunikasi dan Informatika RI.

Para penulis yang melahirkan buku ini datang dari beranekamacam latar belakang; ada dari jurnalis, praktisi hukum, imam, dosen, wartawan, Aktivis Sosial dan lain-lain. Prolog ditulis oleh Stephie Kleden-Beetz. Ia adalah penulis dan wartawan senior kelahiran Waibalun, Flores Timur. Sedangkan Epilog oleh pastor Dr. Otto Gusti Madung, SVD. Buku ini diterbitkan oleh penerbit Ikan Paus, Jakarta.

Demikian rekomendasi lima buku terbaik bagi anda yang ingin mengenal Lembata secara dalam dan kompleks. Diharapkan agar melalui buku tersebut, kita bisa memetik hikmat demi pembangunan Lembata.

 

 

 

Post a Comment for "Orang Lembata Wajib Baca Lima Buku ini"