Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Widget Atas Posting

Komentar Bala Wukak dan Pertanyaan-Pertanyaan untuk Dirinya sebagai DPRD Lembata

Komentar Bala Wukak dan Pertanyaan-Pertanyaan untuk Dirinya sebagai DPRD Lembata

Siapa yang tidak mengenal Pieter Bala Wukak? Nama sosok ini sangat populer berkaitan dengan aksi-aksi demonstrasi di Lembata, khususnya tentang dugaan atau kasus-kasus korupsi.

Ia terkenal sangat lantang mengutuk tindakan korupsi dengan toa berukuran besar. Saya sendiri mengenal namanya ketika masih duduk di bangku SMA beberapa tahun silam melalui koran lokal Flores Pos. Ia adalah tokoh muda potensial-progresif dan pemberani yang pernah menahkodai ALDIRAS. Apakah taring tajamnya masih mencakar elit-elit korup sebagaimana sosok dirinya tempo dulu? Mari kita lihat!

Namun, sebelum mendalami substansi tulisan kecil ini, saya hanya mau menginformasikan bahwa tulisan ini adalah sebuah bentuk tanggapan saya terhadap Pieter Bala Wukak sebagai figur publik (Wakil Rakyat). Karena itu, tulisan ini tidak bertendensi menyerang pribadi – jangan sampai saya dilaporkan ke polisi. Tulisan ini sebagai bentuk tanggapan dari saya yang juga adalah rakyat Lembata.


Komentar Bala Wukak: Bentuk Apatisme


Komentar bernada sinisme dari Pieter Bala Wukak menurut saya menjadi bukti lain apatisme seorang wakil rakyat dalam menanggapi aspirasi dan situasi kritis masyarakat Lembata. Bukti paling nyata dari apatisme tersebut ialah kealpaannya ketika Massa aksi mendatangi rumah mereka di Peten Ina. Dimanakah Bala Wukak waktu itu?


Padahal tuntutan para demonstran sangat jelas demi kepentingan publik, bukan untuk partai politik, bukan untuk Pilkadal 2024. Sebab kasus-kasus yang diangkat adalah cerita lama yang terus diperjuangan secara konsisten oleh para aktivis Lembata yang bukan bermental bunglon – lantang di luar, selingkuh di dalam.


Namun sayang sekali, seorang Wakil rakyat, anak asli Lembata tidak hadir menerima para demonstran dengan sebuah kesiapan matang dan tanggung jawab publik, malahan balik memberikan komentar dengan nada sinisme. “Gerakkan hari ini kelebihan narasi-narasi yg TDK mnyentuh substansi gerakan,” demikian komentarnya menanggapi unggahan dari nama akun facebook Freddy Wahon yang menceritakan keterlibatannya pada pristiwa runtuhnya Soeharto Mei 1998.


Frasa "Gerakkan hari ini" yang ada dalam sepenggal komentar PBW dapat dilihat sebagai sebuah penilaiannya terhadap aksi massa zaman sekarang. Itu berarti, aksi massa yang terjadi di Lembata otomatis masuk dalam kritikkan itu.


Tentu saja, dalam iklim demokrasi, setiap warga negara punya kebebasan memberikan komentar termasuk melalui media sosial. Namun, dalam kaitan dengan jabatan publik, menurut saya komentar Pieter Bala Wukak adalah bentuk apatisme, ada rasa tidak peduli terhadap tuntutan masyarakat yang ada dalam sebuah gerakkan demonstrasi. 


Padahal sudah sangat jelas, pokok persoalan yang menjadi sumber meletusnya demonstarasi. Mestinya, sebagai seorang wakil rakyat yang pernah menjadi orator domontrasi memberikan tanggapan sesuai identitas sebagai wakil rakyat – sudah tidak ada di kantor, tapi memberikan komentar yang sangat disesalkan.


Jika komentar tersebut, tertuju pada aksi massa "hari ini" yang juga terjadi di Lembata mutakhir, ada beberapa pertanyaan untuk Bala Wukak. Pertama, dimanakah Pieter berada saat para demontran berjemur di halaman Peten Ina? Sebagai wakil rakyat, tentu suara rakyat menjadi perhatian primer. Ketika aspirasi disampaikan dan wakil rakyat tidak ada di tempat, maka disitu tidak ada dialog timbal-balik.


Maka, publik tentu bertanya, dimanakah Bala Wukak. Apakah ia sedang melakukan tugas-tugas penting lainnya? Ataukah menghilang seperti Bupati Lembata yang dikabarkan belum kembali ke Kuma, sebutan manis untuk rumah pribadi sekaligus jabatan bupati Lembata?


Kedua, apa tanggapan PBW atas beberapa tuntutan para demonstaran? Dikutip dari humanitarianjournal.com, ada beberapa tuntutan para demonstran yakni tentang Awololong yang kini sedang ditangani oleh Polda NTT. Ada juga kasus hibah tanah di Hadakewa, proyek Weilain di Kedang yang sudah menelan uang hingga 20 miliar, Kantor Camat Buyasuri, Rumah Sakit Penyanggah Balauring, Pembangunan Gedung Pasar Pada yang diduga ada kerugian keuangan negara dan juga ada beberapa tuntutan lainnya.


Selain itu, ada juga tuntutan soal pembiaran atau penelantaran Rumah Jabatan (Rujab) Bupati tanpa dimanfaatkan dan dialihan ke Kuma Resort milik pribadi Eliaser Yentji Sunur sejak 2017. Kita belum mendengar penjelasan logis dan relevan terkait Rujab ini, rumah yang pernah diduga sebagai tempat strategis pembunuhan terhadap Almarhum Lorens Wadu (Baca Flores Pos, 5/10/2016). Apakah semua tuntutan tersebut demi kepentingan partai Golkar, PDI-P, PKB, PRIMA, PAN dan partai lainnya? Ataukah demi nasib hidup orang Lembata?


Oleh karena itu, sangat tidak wajar jika wakil rakyat menghilang dari peten ina dan menyerang para demonstran dengan komentar sinisme, bukan apresiasi kritis-logis. Walaupun Komentarnya tidak valid tertuju pada demonstrasi di Lembata. Namun, substansinya sangat jelas tertuju pada gerakkan massa dan itu tidak terlepas dari demonstrasi di Lembata.


Bala Wukak Lapor Polisi, Silahkan!


PBW telah dengan cepat, gesit dan berani pergi ke kantor polisi terdekat. Di hadapan polisi, ia menuntut agar nama akun Fecebook No Galapagos dan Panji Marhaen diberi sanksi. Dikutip dari bentara.net (Jumad/21/5), maksud tuntutan itu untuk memberikan efek jerah kepada kedua pengguna facebook yang menurutnya telah melecehkan pribadinya – semoga polisi tidak cepat merespon kasus-kasus pribadi para elit tetapi lebih konsen dengan kasus publik ya! Bala Wukak merasa dilecehkan tanpa menyadari bahwa ia juga sedang melecehkan harapan masyarakat kritis Lembat ketika alpa di peten ina.


Tentu saja sebagai warga negara yang taat hukum, kita mengapresiasi langkah gesit dari wakil rakyat tersebut. Maka, di hadapan hukum, yang bersalah patut mendapatkan tempat yang layak sesuai hukum. Namun, perlu juga kita ketahui bahwa, komentar-komentar para pengguna facebook adalah juga akumulasi dari kemarahan mereka terhadap ketidakhadiran Bala Wukak di Peten Ina, tetapi dengan gampang memberikan komentar sinisme terhadap sebuah perjuangan.


Karena itu, sebagai Wakil Rakyat, ada juga hal penting lainnya yakni perlu mengoreksi diri sendiri. Sebab ketika, masyarakat marah, maka akan ada narasi-narasi emosional.

 

 

 

1 comment for "Komentar Bala Wukak dan Pertanyaan-Pertanyaan untuk Dirinya sebagai DPRD Lembata"