Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Widget Atas Posting

Makna Memberi Makan Leluhur dalam Tradisi Masyarakat Kedang di Lembata

Jika Anda mengunjungi daerah Kedang di Kabupaten Lembata, tradisi berkomunikasi dengan leluhur masih ditemukan. Orang Kedang yakin bahwa saudara mereka yang meninggal dunia tetap hidup walaupun sudah mati. Orang mati diyakini hanya berpindah tempat.

Dalam keyakinan mereka, orang meninggal akan berpindah ke pulau Rusa (Nuha), sebuah pulau yang masuk dalam kawasan Kabupaten Alor.

Keyakinan ini tentu sangat tidak masuk akal. Namun, namanya juga keyakinan, ia memiliki rasionalitas tersendiri yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Selain keyakinan bahwa orang meninggal hanya berpindah tempat, orang Kedang juga memiliki sebuah tradisi yakni memberi makan arwah leluhur atau saudara mereka yang sudah meninggal dunia (paro tuan wo’).

Tradisi ini, biasanya dilakukan saat ada pesta-pesta rakyat. Sebelum sebuah pesta dilakukan, biasanya pihak tuan rumah akan meminta restu leluhur serta mengundang para arwah untuk turut bergabung dalam pesta itu (tebe’ tubi mader dereng). 

Mereka akan memberi makan para arwah; tempatnya di sudut rumah dari tuan pesta. Bukan hanya itu, dalam kehidupan setiap hari pun orang Kedang selalu memberi makan leluhur. Orang Kedang dididik agar sebelum menyantap makanan, mereka harus memberikan sedikit makanan kepada para arwah baru kemudian mereka bisa melanjutkan menyantap makanan. Sedikit makanan itu, dibuang ke tanah, sambil berujar ka mulo, min mulo, "makan duluan dan minum duluan."

Saat memberi makan para arwah, seorang tetua akan berbicara atau berkomunikasi menggunakan bahasa adat setempat yang tidak dimiliki oleh semua orang. Sebab hanya orang-orang “terpilih” yang bisa menggunakan bahasa tersebut.

Makanan para arwah diletakan di sebuah piring, kemudian dipindahkan ke sepotong atau dua potong daun pisang. Dituangkan juga tuak dan air, juga ada rokok tembakau koli kepada para arwah sambil bersabda, menjelaskan maksud dari pemberian makanan tersebut kepada para leluhur.

Makna dari tradisi ini, mau menjelaskan bahwa kehidupan setelah kematian itu ada (maten-bitan); relasi dengan leluhur atau para arwah tidak pernah berakhir tetapi terus terjalin. Hal ini dibuktikan juga lewat tradisi memberi makan kepada para arwah. Selain itu, mendoakan mereka atau mengundang mereka hadir dalam setiap pesta-pesta rakyat mau membuktikan bahwa manusia masih membutuhkan kehadiran mereka. Relasi manusia dengan para leluhur masih tetap terhubung sampai kapan pun.

Jika kepada para arwah leluhur, kita masih membangun relasi baik, maka relasi kepada sesama yang masih hidup pun harus demikian. (RO/Red)

  

Post a Comment for "Makna Memberi Makan Leluhur dalam Tradisi Masyarakat Kedang di Lembata"