Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Widget Atas Posting

Kekuatan Terbatas Dewa-dewa dalam Kepercayaan Lokal Orang Kedang

 

Ilustrasi foto AI

RakatNtt - Di luar diri manusia ada kekuatan transenden yang tak mampu dijangkau mata tetapi diyakini rasa. Bukan hanya Wujud Tertinggi atau Tuhan melainkan ada banyak dewa dengan kekuatan terbatas. Kalau merujuk pada ulasan Harari tentang politeisme, sangat masuk akal. 

Ia menjelaskan konsep politeisme Yunani Kuno yang percaya pada banyak dewa. Namun, di antara para dewa itu ada satu dewa tertinggi sebagai pencipta segalanya. Dewa tertinggi ini sifatnya cuek setelah menciptakan segala sesuatu. 

Jadi Harari bilang ketika dua kubu berperang, mereka tidak mohon bantuan pada dewa tertinggi tetapi pada dewa perang. Mungkin jika kita terjemahkan pada konteks kita saat ini, ketika dua negara berperang tak perlu berdoa pada Tuhan, saya sepakat soal ini. 

Sebab Tuhan sudah menciptakan segalanya baik adanya, manusia yang merusaknya melalui perang dll. Bagaimana dengan kepercayaan lokal kita tentang para dewa? 

Sebagai orang Kedang, saya lebih banyak membahas tentang kepercayaan orang Kedang. Namun, bisa dipastikan suku-suku lain punya kepercayaan sama hanya berbeda pada sebutan. 

Apakah orang Kedang punya dewa? Walaupun tidak ada kata dewa dalam bahasa Kedang tetapi definisi tentang dewa sangat erat kaitannya dengan kepercayaan lokal orang Kedang. Mari kita lihat satu per satu. 

Mi'er Renga

Sering disebut mi'er merupakan dewa keamanan atau perang. Wujud dewa ini dalam rupa binatang buas seperti anjing, ular, kalajengking dan lain-lain. Mi'er selalu dikaitkan dengan penjaga keamanan dan kekuatan perang. 

Jadi ketika ada perang, maka dewa mi'er punya peran sentral. Mi'er bukan dewa tertinggi, ia punya kekuatan terbatas hanya dalam perang dan keamanan. 

Nitung Natang

Sering disebut lengkap Nitung natang waq laleng. Nitung adalah kekuatan gaib yang diyakini hidup dalam batu-batu besar atau pohon besar. Nitung adalah kekuatan terbatas sebagai penjaga tempat-tempat anker di sekitar ruang hidup manusia. Kehadiran nitung adalah akan membuat manusia hidup selaras dengan alam. 

Manusia tidak menjadi yang paling bebas; ia harus menyadari bahwa ada kekuatan lain yang hidup di sekitarnya. Dengan demikian, menjaga keharmonisan dengan nitung adalah nilai positif. 

Manusia tak boleh tebang pohon sembarangan. Ketika hendak membangun rumah atau tempat tinggal, manusia dilarang untuk merampas tempat hidup nitung. Jadi kehadiran nitung membuat manusia untuk tahu diri dan tahu menempatkan diri; tidak menjadi sombong. 

Neda

Merupakan kekuatan gaib yang menjaga mata air. Peran neda sama dengan nitung yakni menjaga alam khusus air agar bisa bermanfaat untuk manusia. Neda juga ada untuk mengontrol tingkah laku manusia khusus saat berada di mata air, misalnya tidak melakukan hubungan terlarang di mata air. Sebab dengan demikian akan membuat neda marah dan mencelakakan manusia. Neda ada penjaga air dan kita wajib membangun hidup harmonis dengan neda. 

Hari

Hari adalah kekuatan gaib yang menjaga laut. Kerjanya pun sama dengan neda yakni selalu mengontrol tingkah laku manusia. Dalam ritus bele bara atau melepaskan dosa-dosa manusia atau perbuatan jahat manusia, sering dilakukan di laut. Hal-hal buruk dibuang ke laut dan peran Hari menjelang relevan. Yang buruk kita buang ke laut dan menerima berkat yang baik dari Tuhan. 

Tuan Wo'

Para leluhur kita pun kita percaya sebagai dewa. Mereka punya kekuatan tersendiri setelah meninggal dunia. Mereka menjaga dan merestui harapan-harapan kita. Maka dalam setiap ritus, nama para leluhur harus kita sebut. 

Yang paling tinggi dari semuanya adalah wula loyo-leu awu' (ero awu') sebagai personifikasi Tuhan yang maha luas. Ia menjadi pencipta segalanya. Semua yang ada di kolong langit dan di atas bumi tunduk kepada-Nya. 

Pesan untuk kita adalah bahwa semua kepercayaan selalu bersifat positif untuk kebaikan manusia. Adanya dewa - dewa membuat manusia tahu diri dan tidak merasa berkuasa sendiri secara mutlak. 

Post a Comment for "Kekuatan Terbatas Dewa-dewa dalam Kepercayaan Lokal Orang Kedang"