Poan Kemer, Ritus Kurban Orang Kedang, Mencoba Cari Makna Otentiknya
RakatNtt - Tulisan kecil ini berkaca pada referensi buku Antropologi Agama, khusus pada tulisan Imam Ardhianto dan Ade Solihat juga buku Diaspora Masyarakat Melanesia di Nusantara, khusus pada tulisan Gregor Neonbasu. Obyek yang mau dibahas adalah poan kemer atau ritus kurban orang Kedang di Lembata. Hingga hari ini ritus kurban masih dipraktikkan sebagai ekspresi religius orang Kedang - juga masyarakat adat lainnya.
Ritus kurban punya ragam makna, misalnya untuk mohon berkat kesembuhan (tuwo moleng balo laen), berkat keturunan (kura' ite dahu' ta'), relasi syukur dengan ibu bumi (iu uhe bei ara) dan masih banyak lagi. Yang jelas, Ritus kurban bukan bentuk sembah berhala atau makna negatif. Sejak permulaan, leluhur Kedang menyadari kehadiran subyek transenden yang tak terbatas; ia tidak bisa dibilang atau dihitung, ia hanya bisa dirasakan sifatnya sebagai yang maha.
Karena demikian, ritus adat selalu dilakukan di tengah alam bebas sebagai bukti keyakinan terhadap Tuhan yang maha besar (Ade Solihat), bukan dirayakan dalam rumah ibadah yang mewah dan terbatas. Dalam poan kemer, hewan kurban terutama ayam selalu menjadi jembatan utama. Proses Ritus dilakukan dengan cara poan (pegang kepala ayam) sambil berdoa menggunakan bahasa agama dari perspektif antropologis. Bahasa agama berbeda dengan bahasa profan atau komunikasi setiap hari. Bahasa agama cenderung menggunakan simbol-simbol untuk memaknai sesuatu.
Karena itu, ketika ayam dikurbankan, maka kita harus pahami maknanya sebagai bentuk pengurbanan, bukan menyiksa ayam sebagaimana pendapat beberapa orang yang mungkin kurang paham. Ketika para martir rela mati demi Tuhan-Nya, harus dibaca sebagai pengurbanan total untuk sebuah kebaikan yang diyakini, bukan menyiksa diri sia-sia. Demikian, dapat kita geser maknanya dalam ritus kurban.
Tentu ritus ini punya makna beragam, selain yang dipahami oleh orang Kedang juga oleh para antropolog. Imam Ardhianto dalam tulisan tentang ritus kurban, mengutip pendapat beberapa ahli yang sudah banyak mengulas ritus kurban di berbagai daerah. Para ahli tersebut misalnya, Turner, Valeri, Carrasco, Frazer, Robertson dan Tylor. Dari beberapa ahli ini, dapat diringkas bahwa ritus kurban adalah bentuk peleburan yang profan dan sakral. Biasanya binatang (totem) dijadikan sebagai jembatan simbolik.
Hal ini mau menegaskan keterbatasan manusia untuk memahami Tuhan. Maka melalui simbol-simbol, manusia dibantu untuk memahami. Ayam yang dikurbankan dalam tradisi poan kemer adalah bentuk persembahan diri manusia. Melalui ritus ini, orang Kedang yakin bahwa Tuhan yang tak kelihatan bisa hadir dan berkomunikasi dengan mereka. Tokoh-tokoh spiritual atau molan punya peran di sini.
Gregor Neonbasu menegaskan, ritus adat juga merupakan jembatan untuk membangun jejaring yang rusak antara manusia dengan manusia maupun dengan kekuatan di luar diri - Tuhan, alam, leluhur, dewa-dewa (neda, hari, nitung, mi'er). Ketika orang Kedang punya masalah (wangun lean), maka ritus dilakukan untuk proses pemulihan.
Hal ini mungkin berakar sejak leluhur Kedang di puncak Uyelewun melalui peristiwa Sayin Talu Wula Lahar Loyo sebagaimana dijelaskan oleh Yohanes Tehe dalam manuskripnya.
Sayin ini, wujud Tertinggi Wula Loyo menyerahkan dua putranya yakni Talu dan Lahar untuk dikurbankan oleh manusia sebagai bentuk pemulihan atas situasi chaos - kerusakan yang dialami para leluhur Kedang - hidup dalam hukum rimba. Tentu peristiwa ini harus dibaca melalui bahasa agama - simbol-simbol - bukan dengan bahasa profan kita setiap hari.
Artinya, leluhur Kedang meyakinkan bahwa konflik atau kerusakan dapat dipulihkan melalui membangun relasi harmonis, terutama dengan Wula Loyo - Tuhan.
Sejak dulu, leluhur sudah memahami Tuhan sebagai Yang belas kasih - melalui sayin Talu Wula Lahar Loyo. Perjalanan seterusnya, para leluhur selalu mengandalkan kuasa Yang Transenden untuk membuka kampung (Leu) harus dimulai dengan ritus Tilo Leu Pating Awu' - memohon restu Tuhan, dewa-dewa, alam dan leluhur. Mengapa semua kekuatan itu dibutuhkan? Ya, orang Kedang menganut paham keseimbangan atau keharmonisan.
Dalam hidup, kita tidak mengandalkan diri sendiri - potensi sombong - tetapi juga kekuatan di luar diri. Membangun relasi harmonis dengan semua kekuatan metafisik menjamin keberlangsungan hidup yang aman dan tenang.
Artinya, melalui ritus, tujuan utama adalah keharmonisan bukan kekacauan. Dengan demikian, memahami poan kemer butuh penjelajahan serius, terlibat aktif dan membaur.
Sampai saat ini, mayoritas orang Kedang masih menjalankan ritus ini dengan kesadaran aktif bukan dipaksa. Orang Kedang yang punya suku Leu otomatis lahir dan besar dalam tradisi ritus. Sebab di setiap kampung lama, pasti ada lapaq tarang dan itu semua hanya bisa dilakukan melalui ritus.

Post a Comment for "Poan Kemer, Ritus Kurban Orang Kedang, Mencoba Cari Makna Otentiknya"
Komentar