Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Widget Atas Posting

Narasi Logis tentang Geotermal Lembata dan Suara Korban yang Curiga

 



 

RakatNtt - Geothermal atau energi panas bumi yang dijanjikan oleh para  pakar dan kaum elite sebagai energi bersih untuk memenuhi kebutuhan listrik di Lembata masih menimbulkan perdebatan panjang. Pihak pendukung proyek ini selalu memainkan narasi logis baik melalui media sosial maupun media online yang dikelola oleh  para jurnalis. Kalau kita melihat secara garis besar, pada umumnya yang mendukung geothermal adalah kaum elite, para pecinta partai politik atau mereka yang hidup dalam relasi kekuasaan tertentu. 

Mereka selalu bilang sebuah kemajuan pasti selalu ada yang dikorbankan. Namun, mereka lupa bahwa pihak yang dikorbankan adalah warga biasa yang memungut hidup di atas tanah pertanian. Ketika geothermal masuk, maka tanah-tanah petani akan berubah wujud. Dengan demikian, konflik sudah pasti muncul; yang jelas petani akan kehilangan tanah untuk menanam pisang, jagung, ubi dll.

Cara kerja kaum elite dengan menggaungkan narasi energi bersih untuk kepentingan banyak orang membuat mereka lupa bahwa ada kaum minor yang menjadi korban. Hal ini yang oleh Bentham disebut sebagai prinsip utilitarianisme. Prinsip ini menekankan seuatu tindakan yang dampaknya bermanfaat bagi kebahagiaan sebanyak mungkin orang (The greatest happiness of the greatest number). 

Melalui prinsip utilitarianisme, proyek geothermal pun selalu dijadikan alasan sebagai proyek pembawa perubahan untuk mayoritas masyarakat Lembata. Namun, lagi-lagi, prinsip ini juga seringkali tidak adil karena selalu memakan korban yakni kaum kecil atau minor yang menuntut hak mereka untuk hidup di atas tanah tanpa konflik.

Dalam konteks geothermal, petani adalah kaum minor yang selalu menjadi korban. Bukan saja soal kehilangan lahan, kita patut mencurigai ada rencana terselubung yang bisa kita lihat melalui proses sosialisasi yang sepertinya kurang transparan. 

Beberapa orang membagikan video yang menjelaskan bahwa ada beberapa penduduk di Atadei, pemilik lahan yang di atas tanahnya dipasang tanda oleh pihak elite tanpa pemberitahuan resmi. Hal ini membuktikan bahwa ada proses kotor dibalik narasi energi bersih.

Hal lainnya, ada beberapa orang yang berulang kali bernarasi di medsos bahwa konflik warga dengan kaum pendukung geothermal di pulau Flores bukan menjadi alasan penolakan yang sama di Lembata. Padahal justru karena ada kegagalan konkrit tentang geothermal di tempat lain, maka orang Lembata patut curiga dan waspada. 

Anehnya, orang-orang otak pendek selalu mengedepankan contoh di Kamojang yang jauh di Jawa sedangkan yang dekat di pulau Flores, tetangga Lembata tidak dijadikan contoh. Lantas, mengapa warga lokal bersama Gereja Katolik menolak geothermal di Flores? Apakah penolakan ini tanpa dasar dan alasan konkrit?

Cara pandang  ideal yang selalu menomorsatukan bahasa politis dari kaum penguasa dan keahlian pakar tanpa didukung dengan data konkrit justru telah melahirkan benturan. Warga lokal Atadei dan Lembata tidak menolak geothermal secara membabi buta. Penolakan ini didasarkan pada kecurigaan atas fakta di tempat lain. 

Bukan hanya itu, penolakan ini juga didukung oleh cara kerja tidak transparan sebagaimana disebutkan sebelumnya. Bagaimana mungkin warga kaget ternyata di atas tanahnya sudah dipasang tanda oleh orang yang tak dikenal sebagai wilayah proyek geotermal? Dari proses gelap model ini menegaskan bahwa yang dikorbankan tidak selalu menghasilkan sesuatu yang  baik. Justru yang dihasilkan adalah kegagalan; konflik tanah, kecurigaan dan bahkan yang paling ditakuti adalah bencana alam.

Ingat Lembata adalah pulau kecil yang dalam sejarahnya  selalu dilanda bencana besar; nenek moyang  kita bermigrasi dengan latar belakang bencana alam. Oleh karena itu, jangan buru-buru. Suara kaum minor mesti dipertimbangkan bukan hanya kaum elite dan yang katanya para pakar. Bukan hanya itu, contoh konkrit  penolakan warga di pulau Flores patut menjadi cermin untuk orang Lembata sebelum mengetuk palu mendukung geothermal.

Post a Comment for "Narasi Logis tentang Geotermal Lembata dan Suara Korban yang Curiga"