Terlibat dalam Praktik Ritus untuk Memahami Maknanya
RakatNtt - Secara singkat dan jelas, ritus adat adalah bentuk kepercayaan tradisional yang memiliki makna untuk kehidupan manusia. Maka tidak berlebihan jika ritus adat Adalah kata lain dari doa. Sebelum kehadiran kepercayaan modern yang dibawa datang dari daerah Timur Tengah, nenek moyang kita sudah memiliki kepercayaan lokal.
Mereka percaya bahwa di luar diri
mereka, pasti ada kekuatan yang lebih besar. Mereka percaya bahwa alam semesta
ini ada penciptanya. Nenek moyang tak
butuh Kitab Suci sebab di luar Kitab Sucipun kepercayaan terhadap Tuhan dapat
ditemukan melalui perjumpaan dengan alam semesta dan kehidupan yang maha luas ini.
Walaupun demikian, tantangan selalu ada. Pada periode tertentu, kita mengenal adanya pandangan bahwa ritus adat adalah kepercayaan berhala, sia-sia dan tanpa makna. Orang mengklaim bahwa yang paling benar adalah kepercayaan yang datang dari luar bukan yang diwariskan oleh leluhurnya sendiri. Sampai hari ini pun ada yang berpandangan demikian. Semua ini adalah bagian dari kebebasan berpikir dan kebebasan memilih – juga kesempitan berpikir.
Namun, satu yang pasti, dalam kepercayaan tradisional tak ada ajaran yang mengatakan di luar kepercayaan saya berarti salah atau kepercayaan orang lain tidak benar. Maka, benar apa yang dikatakan Harari, toleransi itu lahir dari kepercayaan lokal nenek moyang bukan datang dari ajaran agama-agama modern saat ini.
Terlibat untuk Memahami Makna
Budi Kleden dalam buku Teologi Terlibat menekankan pentingnya keterlibatan kita untuk memahami ritus – terlebih kaum muda. Sebab tanpa keterlibatan, kita tak akan mampu memahami ritus secara baik. Akibatnya pemahaman kita menjadi membias. Akibat lanjutannya kita juga cenderung suka mengklaim tanpa dasar pemahaman yang lengkap. Maka sebenarnya untuk memahami sebuah ritus, kita perlu terlibat aktif.
Sebagai pribadi, saya selalu terlibat dalam acara-acara ritus bersama warga di kampung. Dari keterlibatan ini, saya memahami bahwa ritus Adalah bentuk doa yang paling sakral; ada pengurbanan hewan, setiap orang yang datang harus membawa hati yang tulus; melalui ritus akan dicari kesalahan-kesalahan (wangun) yang pernah diperbuat.
Puncak dari ritus adalah pertobatan. Jadi apa yang salah dengan ritus? Ada yang mengatakan ritus kurban dengan membunuh ayam adalah bentuk berhala karena menyiksa hewan. Padahal, mereka lupa bahwa ritus kurban berarti harus ada yang dikurbankan, darah hewan harus jatuh ke atas batu-batu sakral. Ritus kurban ini juga dipraktikkan oleh Abraham, nenek moyang orang Timur Tengah, dalam Perjanjian Lama – lantas yang Abraham lakukan disebut halal tetapi yang dilakukan nenek moyang kita disebut haram?
Ritus sebagai Kearifan Lokal
Harus kita sadari bahwa ritus adalah kekayaan lokal kita. Ada ajaran tentang kearifan lokal yang dapat kita temukan melalui ritus. Ada ajaran tentang hidup baik, jangan membunuh, jangan sombong, jangan kikir, jangan berbuat jahat dan seterusnya. Menjaga mulut saat berbicara, jangan maki orang dan seterusnya.
Melalui ritus kita menemukan makna-makna lokal yang bernilai universal. Karena itu, sesungguhnya ritus adalah bagian dari kekayaan lokal yang membentuk identitas kita. Pemahaman membias tentang ritus hanyalah bentuk dari ketidakterlibatan sehingga salah pemahaman kita tentang ritus.
Oleh karena itu, menjaga ritus berarti menjaga
kearifan lokal, menjaga warisan leluhur dan tentu saja menjaga identitas asli
kita. Kita diajak untuk bangga pada warisan leluhur kita yang kaya raya, unik
dan bermakna untuk kehidupan kita.

Post a Comment for "Terlibat dalam Praktik Ritus untuk Memahami Maknanya"
Komentar