Kritik Bupati Lembata Tanpa Faktor Dendam Politik
RakatNtt - Setiap pemimpin harus dikritik. Sebab, setiap pemimpin pasti punya kelemahan baik tidak sengaja maupun dibuat-buat. Ada pemimpin yang bisa langsung paham setiap kritikan dan menemukan kekurangannya; ada juga pemimpin yang menganggap kritikan sebagai angin lalu begitu saja. Pemimpin tipe kedua ini cenderung feodal. Ia bisa saja menganggap yang mengkritiknya sebagai musuh yang harus dihabisi.
Hal lainnya juga datang dari orang yang suka mengkritik. Ada yang kritik karena paham. Dengan demikian, ia memberikan pikiran dengan menunjukkan mana yang salah. Kritikus tipe ini tidak hanya paham isi kritikannya tetapi ia juga paham posisinya sebagai warga negara yang baik. Tipe kritikus seperti ini akan memberikan pikiran dengan ulasan narasi yang baik, mendalam dan membuka wawasan bagi publik. Ada juga kritikus yang hanya buat-buat. Hal yang tidak ada selalu diada-adakan dengan curiga berlebihan. Bahkan narasi yang digunakan cenderung sarkas, dan ad hominem atau menyerang pribadi subyek yang dikritik.
Kritikus model kedua ini akan menimbulkan kecurigaan lainnya; jangan-jangan ada dendam lama; jangan-jangan ia sakit hati karena politik. Namun, soal ini tidak terlalu penting karena negara memberi kita tempat untuk bebas ungkapkan pikiran kritis. Pikiran kritis beda dengan sentimen pribadi. Orang yang mengkritik setiap detik bisa jadi ada sentimen pribadi.
Sebab seperti bagian pertama di atas, kritikus yang kritis berarti punya modal pengetahuan yang baik. Ia berpikir dua kali sebelum ungkapkan isi kritikannya. Namun, kalau ada yang kritikannya setiap detik, setiap jam tidak habis-habis bisa jadi modalnya habis, heheh – saya main gila saja.
Hari ini saya lihat ada orang kritik Bupati Lembata tapi gunakan narasi membabi buta dan sudah menyentuh pribadi. Padahal selain punya kekurangan, Bupati Lembata adalah pemimpin kita bersama – kita-kita saja ni le. Kita kritik dia supaya ia bisa menemukan kekuranganya dan memperbaikinya bukan sebaliknya menyerang pribadinya.
Ada yang kira-kira menulis kritikan-curiga-pada kebijakan Pemerintah terhadap tukang iris tuak. Lalu orang itu bilang kira-kira saya parafrasekan begini; apa hubungan pengiris tuak dengan kebijakan ini? Apakah karena nama belakang Bupati Tuaq sama dengan tuak – minuman?
Cara kritik dengan menggunakan bahasa seperti itu bukan saja tidak elok melainkan berlebihan. Kecurigaan kita sebagai warga negara harus disampaikan juga dengan dasar pengetahuan yang baik – tidak semua hal kita anggap salah – sebab kebijakan pasti sudah dipertimbangkan dan diukur. Maka penting bagi kita untuk mencari tahu dengan metodologi yang baik bukan menyerang begitu saja di media sosial.
Sebagai kritikus, penting sekali kita menampilkan diri independen yang kritis bukan membenci pribadi. Kita kritik supaya Bupati Lembata menjadi semakin kuat dan semangat bukan menyerang dengan peluru panas setiap detik.
Transparansi
Hal yang sebaliknya juga kita butuh transparansi dan konsistensi dari Pemerintah juga DPRD Lembata. Orang bisa saja selalu kritik karena tidak ada transparansi. Artinya, kebijakan harus disampaikan terbuka baik kekurangan maupun plusnya. Ada banyak media di Lembata, jadikan sebagai wadah untuk ini. Contoh, ketika Bupati Lembata berjanji kepada Formalen soal keputusan pangkas tunjangn DPRD, sampai saat ini tidak diinformasikan secara resmi.
Bukan soal pangkas atau tidak melainkan informasinya harus sampai ke publik – apa alasan mendasar tidak pangkas? Hal inilah yang kita sebut mendidik publik untuk paham tentang politik – bukan hanya video titi jagung yang viral ke publik bos!
Sama juga dengan di Petan Ina – sepertinya hanya DPRD yang sama saja yang terlihat di media. Yang lain dimana? Kamu jangan alasan etika lembaga dll lagi e hhh. Masyarakat butuh kamu sebagai pelita penerang. Kamu gunakan media sosial bukan hanya untuk baca orang kritik tapi berilah tanggapan. Beri kami informasi apa yang sedang terjadi di Peten Ina.
Kalau
tidak, kita bisa saja curiga, jangan-jangan ada wakil rakyat yang tidak pernah
omong karena menang hanya faktor elektabilitas nol pengetahuan. Jangan-jangan ada
wakil rakyat yang hanya tahu main game di HP dan jangan-jangan lainnya.
Post a Comment for "Kritik Bupati Lembata Tanpa Faktor Dendam Politik"
Komentar