Menelusuri Asal Situs Lepang Bareng - Nekara di Kedang dan Jejak Kampung Edang Aya' Wei Laong
![]() |
| Lepang Bareng atau Nekara di Kedang (Foto Mastura Noreng) |
RakatNtt - Sampai saat ini ada beberapa barang kuno yang dijadikan pusaka oleh beberapa suku di Kedang, Lembata. Namun yang menjadi unik, tradisi lisan menjelaskan barang-barang itu ada secara misterius, tak dipahami secara rasional dan biasanya dikaitkan dengan manusia yang turun dari langit. Tentu cerita seperti ini memantik kita untuk berpikir yang masuk akal untuk menemukan cerita awal mula yang sebenarnya.
Salah satu situs kuno yang mau kita bahas adalah Lepang Bareng atau Nekara. Dalam tradisi lisan suku Noreng Wala di Leubatan, Omesuri bahwa nekara ini merupakan belis dari seorang laki-laki yang asalnya dari langit ketika mempersunting salah satu cucu dari Wewan Leu. Bukan hanya Nekara, ada juga tola wula loyo yang ada di suku Leuwerun Walangsawa, guci di Peuara dan Laong weren di Waqlupang.
Apakah semua ini datang dari langit? Tentu tidak! Masyarakat lokal punya strategi sendiri untuk mewariskan cerita agar awet dalam ingatan generasi. Kita coba menggali cerita ini secara cukup rasional. Yang jelas Nekara merupakan produk kebudayaan Dongson. Nekara umumnya dibuat pada masa praaksara, khususnya Kebudayaan Dongson yang berkembang di China Selatan dan Asia Tenggara antara 1000-500 SM (Kompas).
Nekara kemudian masuk ke Indonesia termasuk Rote dan Alor. Ternyata di Kedang, Lembata juga ada. Dari situs Nekara dan beberapa pusaka lainnya membuktikan bahwa keturunan Wewan Leu sejak dulu sudah membangun relasi budaya dengan orang asing entah dari China, India maupun Jawa. Pusaka yang diperoleh ini merupakan belis, maka sejak dulu sudah ada kawin-mawin antara orang Kedang dengan orang asing yang dalam cerita lokal kita kisahkan sebagai orang yang turun dari langit, hehe.
Edang Ayaq Wei Laong
Tak bisa dibantah bahwa keturunan Wewan Leu tempat tinggal awalnya ada di Edang Aya' Wei Laong yang jika diterjemahkan berarti pusat Kedang-air emas atau permata. Laong sejak dulu juga merupakan belis, Laong berbentuk rantai emas. Mengapa barang-barang pusaka ini masuk ke Kedang melalui kampung Edang Aya'? Ya, dalam cerita lokal kita ada 2 kampung tua di pesisir utara Kedang yakni Edang Aya' dan Honi'ero yang sekarang menjadi kampung besar Kalikur.
Justru karena sudah menjadi kampung di pesisir, maka banyak kapal asing datang dan singgah lalu terjadi kawin-mawin dan pembauran budaya dengan bukti sarung kuno (India) , guci (China), nekara dan laong weren atau rantai emas. Namun, karena dulu, leluhur kita tidak tahu asal usul orang asing, maka lahirlah cerita orang asing itu dari langit.
Dalam beberapa tulisan tentang proses migrasi para leluhur sebagian orang Lembata dari Pulau Lepan Batan, dikisahkan bahwa salah satu tempat persinggahan mereka di bagian utara Kedang yakni pantai Ramuq dan Weilaong. Hal menarik juga dapat ditemukan dalam buku Asal Usul Lewo yang membahas tentang proses terbentuknya kampung-kampung di Flotim, ditulis oleh beberap penulis.
Muhammad Soleh Kadir dalam artikelnya tentang kampung Lamahala menggambarkan bahwa orang-orang Lamahala adalah heterogen; ada yang datang dari arah barat seperti dari Sumatera, Jawa, dari Timur seperti dari Maluku, dari Munaseli dan juga dari gunung di Adonara. Ia mengutip sebuah manuskrip dengan judul: Kedatangan Islam di Lamahala, diulis oleh H. Syamsudin Abdullah, 1995, disebutkan:
“Kemudian berlayarlah Raja Sira Demong meninggalkan pula Samosir mengarungi lautan luas menuju Indonesia Timur dan tibalah di daratan pesisir Pantai Omesuri Pelabuhan Kampung Ramu dan terdapat sebuah perigi/sumur yang bernama Waibelaon. Raja Sira Demong tinggal beberapa tahun di Waibelaon namun rupanya di tempat tersebut tidak cocok dengan ide dan cita-citanya maka expedisi Raja Sira Demong berpindah tempat dengan berlayar menuju tanah Adonara."
Dari dua informasi ini menegaskan bahwa lokasi di pantai Ramu' dan Weilaong menyimpan jejak cerita di masa lampau sebagai tempt persinggahan. Kata Weilaong bisa diartikan sebagai air berlian. Biasanya setiap pengembara yng datang ke sebuah pulau tidak akan mencari tempat kosong. Mereka biasanya mencari tempat yang ada penghuninya dengan melihat tanda asap api dan nyala api. Jika bencana besar di Lepan batan terjadi antara tahun 1522-1525, maka mungkin saja di Weilaong dahulunya masih dihuni oleh suku-suku dari Kedang sendiri.
Dengan demikian, pada ratusan tahun lalu, lokasi di Edang Aya' Weilaong sudah tentu dihuni oleh komunitas suku-suku dari Kedang sehingga banyak pengembara dari daerah lain menyinggahi tempat itu.

Post a Comment for "Menelusuri Asal Situs Lepang Bareng - Nekara di Kedang dan Jejak Kampung Edang Aya' Wei Laong"
Komentar