Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Widget Atas Posting

Konsep Teologi Agama Tradisional Orang Kedang - bukan Monoteisme

 

Ilustrasi AI



RakatNtt- Orang Kedang di Lembata tidak mengenal konsep monoteisme untuk Tuhan atau Wujud Tertinggi. Orang Lamaholot, tetangga terdekat orang Kedang pun demikian. 

Konsep monoteisme merupakan paham dalam agama-agama abrahamistik seperti Yahudi, Kristen dan Islam. Monoteisme menegaskan tak ada Tuhan lain selain Tuhan yang satu. Atau dengan ungkapan lain monoteisme menegaskan Tuhan hanya satu.

Logika Teologi monoteisme jelas berbeda dengan konsep dalam agama tradisional orang Kedang dan Lamaholot. Tuhan tidak bisa dihitung atau dibilang dengan angka satu, dua dan seterusnya. 

Konsep Teologi agama tradisional orang Kedang menggambarkan Tuhan sebagai Wujud yang tak terbatas, tidak dihitung dengan angka dan tidak bisa dijangkau oleh pemahaman manusia. Karena itu dalam bahasa adat orang Kedang tak ada angka satu untuk menyebut Tuhan. Mari kita lihat salah satu sebutan di bawah ini.

Wula loyo - Leu Awu' (ero awu'). Konsep Tuhan dalam pandangan orang Kedang tidak bisa dibaca secara denotatif. Gaya metaforis sangat memengaruhi cara orang Kedang memahami Tuhannya. 

Bulan matahari (langit) - kampung dan tanah (bumi) merupakan cara orang Kedang memahami Tuhan sebagai yang tak terbatas. Tuhan tak bisa dijangkau karena itu tak bisa direduksi dengan angka satu.

Budi Kleden dalam teologi terlibat menjelaskan konsep Tuhan dalam budaya Lamaholot yang sama persis dengan Kedang. Lera Wulan tana ekan - Tuhan langit dan bumi menggambarkan Wujud Tertinggi seluas langit dan sedalam bumi dan manusia tak mampu menjangkau atau mengukurnya. 

Tuhan langit sebagai bapak dan bumi sebagai ibu. Penyebutan Tuhan langit dan bumi selalu saling melengkapi atau ada unsur kesatuan. Sebab hanya dengan kesatuan bapak dan ibu, maka kehidupan itu bisa ada.

Budi Kleden melanjutkan jika demikian maka semua manusia dan alam semesta yang hidup di kolong langit dan di atas bumi adalah anak-anak Tuhan. 

Artinya, dalam pandangan ini, Tuhan adalah milik semua makhluk hidup bukan milik satu agama tertentu. Sebab langit dan bumi bukan milik agama tertentu saja atau negara tertentu. Itulah nilai universal dari konsep Teologi agama tradisional orang Kedang dan Lamaholot.

Di tengah perdebatan teologi oleh para ahli medsos, kita dituntut untuk tenang mengalami kasih Tuhan dalam hidup. 

Pemahaman kita sangat terbatas, maka rendah hati untuk menyadari keterbatasan adalah langkah tepat menuju kewarasan beragama. Leluhur mewariskan Tuhan sebagai yang tak terbatas tetapi nyata. Tuhan tak bisa direduksi dengan angka-angka. Sebab ia maha luas dan tak bisa dijangkau. 

Atau Ayu Utami dalam sebuah novel mempertanyakan; mengapa Tuhan tidak disebut saja maha nol? Mengapa harus satu? Jika ia terbatas pada angka satu, maka secara jumlah ia kalah dengan angka dua😁

Post a Comment for "Konsep Teologi Agama Tradisional Orang Kedang - bukan Monoteisme"