Apakah Peran Tetua Adat Masih Relevan Hari Ini?
![]() |
| Ilustrasi |
RakatNtt - Pada zaman lampau, tetua adat sangat dihormati karena kewibawaannya. Ia berbicara jujur, bertanggungjawab, mengatur keharmonisan suku dan kampung. Para tetua adat dihormati sebagai pemimpin dalam suku kecil karena sesuai dengan tradisi, mereka memiliki kharisma khusus yang diberikan Tuhan, alam dan leluhur.
Orang Kedang misalnya menyebut tua adat dengan ungkapan wowo pana hunga lati. Artinya, tetua adat punya kewibawaan dalam berbicara.
Pertanyaan kita, apakah hari ini peran tetua adat masih relevan? Apakah tetua adat kita menjaga wibawa dan harga diri suku atau justru merusaknya. Pertanyaan ini membutuhkan jawaban kita dalam suku masing-masing.
Kita bisa menilai apakah tetua adat kita masih berwibawa, mampu mengatur keharmonisan suku, mampu menyelesaikan masalah tanpa masalah baru atau justru sebaliknya membuat nama baik suku menjadi rusak?
Dari wowo pana hunga lati menjadi wowo emi iyuq buyaq. Artinya omongan tetua adat tidak bisa dipercaya lagi karena terbukti lebih banyak salah dan provokatif.
Tetua adat model ini tak mampu mengatur kewibawaan suku, membuat suku pecah-belah dan akhirnya ia tak dihormati lagi. Maka pertanyaan di atas menjadi sangat relevan. Apakah kita masih butuh peran tetua adat?
Jika tetua adat kita tak menyadari identitas dan perannya, maka mereka tergolong bukan tetua adat. Sebab tetua adat punya tanggung jawab untuk mengatur keharmonisan suku. Menjadi terbalik jika tetua adat justru menjadi feodal, mau menang sendiri, mau diagungkan sebagai raja.
Hal demikian sering kita temukan dalam suku masing-masing. Karena itu, peran anak muda dibutuhkan untuk mengontrol tetua adat yang tidak laku lagi mengatur suku. Tetua adat bisa jatuh jika lebih banyak minum tuak sebelum berbicara.
Pada konteks ini, anak muda harus ada untuk mengontrol dan menjaga tetua adat. Jika tidak, suatu saat kita tak lagi mengenal tetua adat kita yang berwibawa.

Post a Comment for "Apakah Peran Tetua Adat Masih Relevan Hari Ini?"
Komentar