Sedikit tentang Sejarah Islam di Kampung Hobamatan, Lembata
![]() |
| Ilustrasi |
RakatNtt - Menulis tentang kampung halaman itu punya keasyikan tersendiri. Banyak hal yang tidak dicatat apalagi dimasukkan dalam buku-buku Mata Pelajaran di sekolah. Hal ini sangat wajar karena masyarakat kita masih dikuasai oleh tradisi tutur - bahkan ada tetua yang begitu radikal melarang cerita lokal di kampung dibukukan. Cara pandang tradisional seperti ini sudah saatnya dirombak total; tanpa tulisan mendalam, generasi akan hilang ingatan tentang kampung halamannya sendiri.
Untuk konteks di kampung saya, Hobamatan, Desa Mahal, ada satu tema yang menarik untuk ditelusuri lebih dalam dengan harapan untuk bisa ditulis yakni tentang masuknya agama Islam. Sementara itu, untuk agama Katolik, kita sedikit terbantu dengan ulasan yang begitu hebat dari Alo Rupa dalam manuskrip tentang Gereja Aliuroba, 2001.
Walaupun, pada bagian awal, ada sedikit kekeliruan yang ia tulis tentang identitas beberapa suku asli di Kedang - kita maklumi. Menurut manuskrip tersebut, Thomas TangaLlalang dan tiga orang lainnya dari Hobamatan dibaptis perdana pada tahun 1926 - siapakah 3 orang lainnya itu?
Namun, yang menjadi kesulitan bagi saya dan teman-teman pengumpul data, yakni tentang Islam di kampung saya. Hampir bahkan bisa dikatakan tidak ada data tertulis - semoga ada data nanti - yang menjelaskan tentang proses masuknya agama Islam di Hobamatan.
Sedangkan secara umum untuk konteks Kedang, kita paham bahwa proses islam menyebar ke seantero Kedang tak terlepas pula dari peran Kapitan Kedang Sarabiti Musa - ia juga sebenarnya punya andil untuk agama Katolik di Kedang. Bukan hanya Sarabiti Musa di Kalikur melainkan juga peran tua-tua Dolu yang terbaca dalam ungkapan Dolu Buka’ Wula-Likur Leleng Sabo’ Buya’.
Lantaran kesulitan menemukan data tertulis, maka salah satu jalan keluarnya yakni mendalami cerita lisan yang masih cukup awet hingga kini. Dalam catatan saya, kesimpulan sementara yakni Kata Datoq Hobamatan adalam orang pertama yang masuk menjadi Islam sekitar tahun 1920 ketika ia menjadi Kepala Kampung dan menikah dengan istrinya dari Kalikur. Ada cerita unik bahwa lelaki pedalaman yang menikah dengan perempuan Kalikur wajib masuk Islam.
Setelah menjadi muslim, secara adat Kedang, mesti dilakukan ritus untuk menyampaikan kepada leluhur Hobamatan (tuan huna) tentang keputusan Kata Datoq menjadi islam - ada bahasa adatnya. Setelah Kata Datoq, generasi berikutnya misalnya Rajuni Huraq yang juga pernah belajar Islam di Kalikur, juga ada beberapa tetua lainnya, seperti adik-adik dari Kata datoq yang memutuskan masuk Islam. Rajuni Huraq bahkan setelah menjadi muslim, ia juga mengislamkan ayahnya Huraq Lako.
Selain itu, pendidikan formal tentang Islam pun tak terlepas dari peran tua-tua di kampung ini yang sudah menjadi muslim, misalnya Dula Datoq, Rajuni Huraq, Saidi Kata dll. Ada di antara mereka bahkan pernah terlibat dalam kongres PSI di Bareng tahun 1968. Dari hasil kongres ini, lahirlah satu keputusan untuk mendirikan lembaga pendidikan berbasis islam untuk mendukung perkembangan Islam di Kedang secara umum.
Ini sedikit cerita yang perlu saya bagikan. Masih banyak yang sudah dihimpun dan akan terus digali untuk kepentingan pengatahuan generasi muda. Tanpa kepedulian kita untuk menggali dan mencatatnya secara baik, kita suatu saat nanti ibarat daun kering ditiup angin, tidak ada arah yang jelas. Mohon dukungan!

Post a Comment for "Sedikit tentang Sejarah Islam di Kampung Hobamatan, Lembata "
Komentar