Orang NTT yang Hidup dari Iris Tuak
RakatNtt - Kisah hidup setiap orang selalu sama dan tidak sama. Ada orang yang punya perjalanan hidup mulus-mulus saja. Ada pula yang melaluinya dari perjuangan yang berat. Ada yang menjadi guru honorer sampai mati, ada yang beruntung bisa tembus menjadi PNS. Ada yang menjadi petani dan seterusnya. Selain itu, di kampung-kampung, masih banyak orang yang menggeluti usaha menjual tuak. Kebiasaan yang semula tak bernilai ekonomis, kini menjadi jalur baru mendatangkan uang.
Pada zaman yang jauh di masa lampau, tuak adalah simbol persahabatan. Sebab tuak dianggap sebagai minuman istimewa. Karena itu tak heran, dua sahabat lama yang berpisah dan bertemu kembali biasanya dilengkapi dengan tuak sebagai minuman istimewa.
Keistimewaan tuak juga terlihat saat ritus adat dilakukan oleh orang NTT. Tuak adalah simbol minuman istimewa dan dalam konteks ritus ia menjadi minuman sakral yang disuguhkan kepada roh-roh yang tak kelihatan tetapi dianggap ada. Dari proses awal tanpa nilai ekonomis, kini tuak adalah salah satu sumber penghasilan bagi sebagian kecil warga di kampung-kampung khusus di wilayah NTT. Mereka harus berusaha memanjat pohon kelapa atau koli lalu menyadapnya dan menunggu hingga menghasilkan tuak, lalu dijual kepada warga lain yang membutuhkan.
Proses kerjanya tidak mudah tetapi sulit sekali. Mulai dari panjat pohon dengan risiko nyawa terancam, menyadap lalu menjualnya di pinggir jalan. Karena usaha yang begitu sulit, negara mestinya melindungi warga yang menggeluti usaha ini bukan mengunci kebebasan mereka seperti misalnya menyita tuak atau arak. Aturan yang dibuat oleh negara mestinya membebaskan atau memerdekakan para penjual tuak.
Namun, mereka selalu ditampar dengan narasi-narasi minus, misalnya penyebab orang mabuk dan seterusnya. Padahal, bir bintang yang ada di toko-toko ternama pun sama yakni minuman beralkohol. Negara memang tidak adil soal ini. Cara pandang kita juga sering tidak adil terhadap para penjual tuuak. Kita mengkambinghitamkan mereka tetapi di ruang tertentu justru kita mencari mereka karena mau minum tuak.
Jika kita paham bahwa tuak bermakna minuman istimewa, minuman persahabatan maka orang bilang minum ukur-ukur. Sebab berlebihan mengonsumsi tuak sampai mabuk dan baku pukul sering menjadi cambuk bagi para penjual tuak yang berusaha hidup dengan susah payah, hidup dalam diam dan tidak pernah teriak di medsos.

Post a Comment for "Orang NTT yang Hidup dari Iris Tuak "
Komentar