Program NTT dan MBG di Lembata, sebuah Peluang
RakatNtt - Program Nelayan, Tani, Ternak atau NTT milik Pemerintah Kabupaten Lembata dan Makan Bergizi Gratis sebagai program nasional sangat cocok dan potensial jika dijalankan bersama. Dari aspek ekonomi misalnya, dua program besar ini merupakan peluang bagi Pemerintah Daerah dan masyarakat Lembata pada umumnya. Para peternak, petani dan nelayan adalah penyedia bahan kebutuhan pokok bagi program MBG di Lembata.
Program ini berjalan setiap hari; anak-anak sekolah wajib makan makanan bergizi pada jam sekolah. Artinya, program ini tidak berhenti sehingga membutuhkan dukungan program NTT milik Pemda Lembata.
Pertanyaan kita adalah sejauh mana intervensi Pemda Lembata untuk mendukung MBG yang secara nyata dapat memberikan peluang uang bagi petani, peternak dan nelayan? Namun, jika Pemda Lembata ingin membuat programnya sendiri, maka peluang ini bisa bergeser kepada orang lain. Para petani kita diharapkan mendukung MBG dengan penyediaan hasil kebun seperti buah-buahan, sayur, bumbu-bamba; peternak kita mendukung MBG dengan daging ayam dan telur ayam.
Demikian pun nelayan. Hal lain lagi, misalnya para pembuat kue atau mereka yang menjual roti setiap pagi di pinggir jalan mesti juga diberdayakan untuk menangkap peluang MBG ini agar uang negara bisa dibagi-bagi kepada semua yang bekerja dengan serius.
Dengan demikian, yang diharapkan adalah orang yang menjual kue setiap pagi diajak bekerja sama bukan sekadar jual kue atau roti melainkan menyiapkan “pabrik” roti demi mendukung MBG. Karena itu, vendor atau mereka yang mengelola MBG tak boleh egois.
Jangan sampai MBG di Lembata tetapi roti didatangkan dari tempat lain seperti di Kupang. Sama juga ketika kita bicara soal pisang manis. Harus kita akui bahwa MBG datang tiba-tiba dan kita dibuat kaget.
Karena ini program nasional, yang dibutuhkan sekarang adalah gerakkan menanam pisang. Jika tidak, orang luar akan menjadi yang utama mendukung program ini. Gerakkan ini penting karena karakter petani kita adalah musiman; kita menunggu musim hujan baru menanam, itupun apa adanya saja untuk makan di rumah. Perlu ada transformasi progresif untuk mendukung MBG. Hal demikian merupakan tugas Pemda kita.
Dapur MBG yang kini mulai beroperasi hingga ke pelosok-pelosok Desa mestinya membuka kesadaran kita tentang peluang ini. Kita menyiapkan bahan kebutuhan pokok MBG dan menjualnya ke pihak pengelola program ini. Ini menurut saya sesuatu sekali. Maka, sangat penting Pemda kita menggerakkan kesadaran dan semangat menanam bagi petani. Misalnya ada kelompok tani dampingan yang fokus pada satu jenis tanaman misalnya pisang atau semangka atau pepaya.
Kalau Pemda kita mengikuti alur kerja MBG ini, maka sangat terbantu dan menurut saya program NTT akan berhasil dan memuaskan. Namun, jika dengan alasan tertentu, Pemda lebih fokus melirik potensi lain yang hasilnya masih samar-samar, maka lebih baik dipertimbangkan secara matang. MBG sudah datang serahkan diri di Lembata, kita mestinya menerima peluang ini dengan selalu berpikir rasional dan kritis.
Para petani lokal, nelayan dan peternak pasti mendapat keuntungan melalui program MBG. Prinsipnya siapa yang kerja pasti dapat upah. Maka, Pemda mestinya lebih gacor pada peluang ini daripada menggelontorkan dana besar untuk program lain yang belum pasti dampaknya.
Butuh Kontrol Publik
MBG harus dikontrol oleh publik agar berjalan sesuai harapan. Para ahli gizi, vendor dan pengelola dapur mesti ditegur agar tidak mementingkan uang lalu mengabaikan kualitas. Misalnya tadi saya katakan, para penjual roti di Lembata harus diberdayakan. Jangan sampai roti kita ambil di Kupang karena ada keluarga bisnis roti di Kupang. Cara kerja model ini dekat-dekat dengan korupsi dan mementingkan keluarga.
Karena demikian maka publik wajib memberikan kontrol dan catatan kritis agar kualitas MBG tetap terjamin. Tidak boleh ada keracunan massal dan hal-hal aneh lainnya. Sebab namanya MBG berarti bergizi bukan beracun.

Post a Comment for " Program NTT dan MBG di Lembata, sebuah Peluang"
Komentar